20.16
0



                                           

Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang perempuan paruh baya, yang sudah aku kenal saat aku memasuki dunia kerja. Aku mengenalnya di sebuah warung sarapan pagi yang menjadi tempat usahanya. 

Karena sudah lama tak bertemu, sapaan kami begitu akrab. Hari itu aku sengaja ingin sarapan di warungnya yang sudah pindah dari tempat yang dulu. Sambil menikmati sepiring lontong sayur yang terasa sangat sedap saat perut memang kosong, aku iseng sambil bertanya mengapa ibu itu pindah dari tempat yang lama, padahal di tempat lama itu lebih ramai pelanggannya. 

Ia tersenyum, tapi kulihat senyumnya sangat berat. “Ceritanya panjang, fid” ucapnya dalam.
Sambil menapat ke arah jalan, pandangannya jauh ke depan, namun pikirannya penuh sesak dengan beban, ia pun bercerita. Katanya, rumah tempat tinggal yang juga dijadikan tempat usahanya dulu itu, adalah milik suaminya, yang akan diberikan untuk-anak-anak dari suami yang bukan dia ibunya. Karena ia menikah dengan suaminya itu sebagai seorang duda yang sudah memiliki dua anak.  Padahal ia masih gadis kala itu. 

Anak-anak tirinya itu dibesarkannya mulai dari kecil. Hidup pindah-pindah ikut dengan suami karena tugas pun telah dilakoninya.  saat sulit ekonomi, untuk biaya sekolah pun ia ikut membantu, sampai harus membuka warung untuk tambahan ekonomi keluarga.

 Tapi sayangnya, setelah mereka besar, jasa itu tidak diakui. Malah Ia diusir karena rumah itu akan menjadi warisan dari anak-anak tadi. Betapa sedihnya hatinya. Sudah begitu, suami tadi bukan membantu istri yang menjadi ibu tiri anak-anak tadi itu, malahan ikut mendukung apa yang dilakukan anak-anak yang menurutnya tidak tau terimakasih itu. Ia disuruh pergi mencari tempat tinggal lain. Kalau di kasih uang untuk mencari rumahnya tidak mengapa, ini tidak ada di kasih apa-apa. “betapa sedihnya, fid, ketika perjuangan penuh rintangan dengan mereka harus dibayar dengan sikap yang sangat menyakitkan ini.” Kata ibu itu dengan mata memerah menahan tagis karena kesedihan. Terlihat berjuta rasa kekecewaan dan kekesalan dengan suami yang menurutnya tidak bertanggung jawab itu. Yang mulai melupakan jasanya ketika usia pun sudah mulai bertambah. ketika keindahan tubuh wanitanya perlahan hilang mulai diambil sang pencipta dan menjadi keriput karena tua.

Mendengarnya aku tak mampu berkata-kata selain hanya mengangguk-anggukkan kepala. Walaupun sepiring sarapan yang aku santap mulai habis karena lapar, aku juga ikut dalam kesedihannya.  ###

Terkadang aku pun bingung dengan kehidupan ini. Sebab, ada  orang yang sudah ikut berjuang dengan cinta kepada perjalanan  hidup seseorang, sampai di pertengahan jalan malah disia-siakan. Terkadang ada juga orang yang melakukan hal-hal baik dalam kehidpuan, masih saja mendapatkan kesulitan hidup yang berkepanjangan. Terkadang ada pula orang yang sudah berjuang dengan penuh hati-hati untuk mendapatkan kebahagian, tetapi selalu saja hasilnya masih kesedihan. Dan ada juga, orang yang sudah mengalah karena cinta, masih saja dikecewakan dan ditindas. Mungkin karena inilah sehingga kata-kata ‘hidup itu adalah misteri’  dapat terungkap begitu familar dikalangan manusia. Semua itu, hanya tuhan lah yang tahu.

Salam perenungan kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar