Beberapa
hari yang lalu, aku bertemu dengan seorang perempuan paruh baya, yang sudah aku
kenal saat aku memasuki dunia kerja. Aku mengenalnya di sebuah warung sarapan
pagi yang menjadi tempat usahanya.
Karena
sudah lama tak bertemu, sapaan kami begitu akrab. Hari itu aku sengaja ingin
sarapan di warungnya yang sudah pindah dari tempat yang dulu. Sambil menikmati
sepiring lontong sayur yang terasa sangat sedap saat perut memang kosong, aku
iseng sambil bertanya mengapa ibu itu pindah dari tempat yang lama, padahal di
tempat lama itu lebih ramai pelanggannya.
Ia
tersenyum, tapi kulihat senyumnya sangat berat. “Ceritanya panjang, fid”
ucapnya dalam.
Sambil
menapat ke arah jalan, pandangannya jauh ke depan, namun pikirannya penuh sesak
dengan beban, ia pun bercerita. Katanya, rumah tempat tinggal yang juga dijadikan
tempat usahanya dulu itu, adalah milik suaminya, yang akan diberikan
untuk-anak-anak dari suami yang bukan dia ibunya. Karena ia menikah dengan
suaminya itu sebagai seorang duda yang sudah memiliki dua anak. Padahal ia masih gadis kala itu.
Anak-anak
tirinya itu dibesarkannya mulai dari kecil. Hidup pindah-pindah ikut dengan
suami karena tugas pun telah dilakoninya. saat sulit ekonomi, untuk biaya sekolah pun ia
ikut membantu, sampai harus membuka warung untuk tambahan ekonomi keluarga.
Tapi sayangnya, setelah mereka besar, jasa itu
tidak diakui. Malah Ia diusir karena rumah itu akan menjadi warisan dari
anak-anak tadi. Betapa sedihnya hatinya. Sudah begitu, suami tadi bukan
membantu istri yang menjadi ibu tiri anak-anak tadi itu, malahan ikut mendukung
apa yang dilakukan anak-anak yang menurutnya tidak tau terimakasih itu. Ia
disuruh pergi mencari tempat tinggal lain. Kalau di kasih uang untuk mencari
rumahnya tidak mengapa, ini tidak ada di kasih apa-apa. “betapa sedihnya, fid,
ketika perjuangan penuh rintangan dengan mereka harus dibayar dengan sikap yang
sangat menyakitkan ini.” Kata ibu itu dengan mata memerah menahan tagis karena
kesedihan. Terlihat berjuta rasa kekecewaan dan kekesalan dengan suami yang
menurutnya tidak bertanggung jawab itu. Yang mulai melupakan jasanya ketika
usia pun sudah mulai bertambah. ketika keindahan tubuh wanitanya perlahan
hilang mulai diambil sang pencipta dan menjadi keriput karena tua.
Mendengarnya
aku tak mampu berkata-kata selain hanya mengangguk-anggukkan kepala. Walaupun
sepiring sarapan yang aku santap mulai habis karena lapar, aku juga ikut dalam
kesedihannya. ###
Terkadang
aku pun bingung dengan kehidupan ini. Sebab, ada orang yang sudah ikut berjuang dengan cinta
kepada perjalanan hidup seseorang,
sampai di pertengahan jalan malah disia-siakan. Terkadang ada juga orang yang
melakukan hal-hal baik dalam kehidpuan, masih saja mendapatkan kesulitan hidup
yang berkepanjangan. Terkadang ada pula orang yang sudah berjuang dengan penuh
hati-hati untuk mendapatkan kebahagian, tetapi selalu saja hasilnya masih
kesedihan. Dan ada juga, orang yang sudah mengalah karena cinta, masih saja
dikecewakan dan ditindas. Mungkin karena inilah sehingga kata-kata ‘hidup itu adalah misteri’ dapat terungkap begitu familar dikalangan
manusia. Semua itu, hanya tuhan lah yang tahu.
Salam
perenungan kehidupan.
0 komentar:
Posting Komentar