Waktu itu hari munggu, aku sedang menemani sekaligus menjaga
temanku yang sedang terserang penyakit yang membuatnya tidak bisa jalan di sebuah rumah sakit ternama di pekanbaru. Karena
asuransi yang digunakan hanya kelas 3, tentu saja mendapatkan fasilitas kamar
yang dalam ruangan itu diisi oleh 7 pasien, lain dengan orang-orang yang menjaganya.
Luas ruangannya kira-kira 8 x 12 meter. Ruangan itu terlihat begitu sempit, dan
tentu saja membuat sesak untuk sekedar mendapatkan rasa nyaman.
Temanku ini masih muda, kira-kira usianya baru 26 tahun. Sedangkan
pasien lain yang menghuni tempat tidur di ruangan itu rata-rata sudah tua
semua, umurnya di atas 50 tahunan.
Seorang ibu lantas menghampiri kami dan mengajak
berbincang-bincang ringan yang pasti berupaya melepas rasa jenuh dari menunggu
orang yang sedang sakit. Ibu itu yang pertama kali membuka pembicaraan dengan
bertanya temanku itu sakit apa. Setelah kami jawab, untuk upaya timbal balik,
kami pun juga bertanya tentang sakit suaminya yang sedang terbaring lemah di
samping temanku itu.
Dengan sedikit terlihat berat, ia menjawab sedih “paru-paru
dek.” Ujarnya dengan wajah yang tak bahagia. Dan tanpa diminta, ibu itu
melanjutkan ceritanya.
Katanya, suaminya itu sangat kuat sekali merokok, tidak
bisa dilarang, ditegur, apalagi dinasehati. Sepertinya rokok sudah menjadi menu
wajib yang harus dinikmati setiap hari selain nasi, bahkan, kalau di suruh
milih antara nasi dan rokok, ia pilih rokoknya. Saat sudah tua seperti ini baru
menikmati akibatnya, batuk yang berkepanjangan, nafas yang serba pendek-pendek,
dan sakit yang tak berkesudahan. Ini saja beruntung dibawa ke RS, kalau tidak,
ia pasti akan tetap merokok walau kondisinya sangat sakit begini. ujar ibu itu
dengan bibir yang sinis. Sambil sesekali terdengar suara batuk lirih dari
suaminya yang terbaring lemah itu.
Mendengarkan cerita ibu itu, kami pun hanya bisa
mengangguk-anggukkan kepala pertanda paham dari yang diceritakan ibu itu, dan
tanpa komentar sekidikit pun, karena memang terasa segan juga untuk
berkomentar. Usai bercerita itu, sang ibu kembali menghampiri suaminya itu
meninggalkan kami. Aku dan temanku itu pun saling pandang setelahnya, merespon
dari cerita ibu itu.
Tak lama dari itu, seorang laki-laki yang masih terlihat
gagah juga menghampiri kami. Ia datang dari tempat tidur yang sebelah kiri,
sementar ibu tadi dari sebelah kanan. Mengawali pembicaraan, pria itu juga
melontarkan pertanyaan yang sama dengan ibu tadi mengenai sakit sahatbatku itu.
Dan tentu saja, setelah kami menjawab, kami gantian bertanya. Jawabannya cukup
mengejutkan “ayah saya sakit paru-paru, akibat rokok yang terlalu banyak. Tak bisa
dicegah, tak bisa dikasih tau, dan tak bisa disuruh berhenti. Tetap saja menikmati
asap yang katanya nikmat itu. Tidak dibelikan, ia beli sendiri. Sudah dijaga agar
ia tidak keluyuran membeli rokok, ia menyuruh anak-anak yang tampak, atau malah
cucunya yang disuruh beli. Sekarang baru terasa saat kondisinya sudah seperti
ini, tak berdaya dan baru menyadari
selama ini telah menikami yang akan menyiksa dirinya sendiri.” Ujar pria itu
dengan wajah yang terlihat sedih. Aku bisa merasakan kesedihannya. Sebagaimana anak
yang orangtuanya sedang sakit, tentu saja hatinya pasti sedih.
Usai cerita, pria itu kembali kepada ayahnya yang sedang
mengeluh sakit. Pasien yang satu ini sakitnya terlihat lebih parah dari suami
ibu yang cerita pertama kepada kami tadi. Pasien ini terlihat muntah-muntah
setiap 10 menit sekali. Sampai-sampai hati ini terasa jiji. Satu sisi juga
merasa ikut sedih karena sakit yang diderita itu.
“kita mungkin sering
tak menyadari, khususnya bagi para perokok, bahwa apa yang dianggab nikmat saat
masih muda dihisap itu akan menjadi petaka di kemudian hari. Saya beruntung
bisa berhenti dari belajar menghisap asap itu karena belum terkan candu waktu
masih sekolah dulu. Dan bukan maksud memberikan kesombongan karena saya tidak
merokok, tapi saya hanya ikut bersedih tatkala teman, sahabat bahkan saudara
akan mendapatkan penyakit yang sama dari yang saya ceritakan ini. Semoga saja
bisa menjadi bahan pertimbangan.”
Mufidin
0 komentar:
Posting Komentar