22.25
1


Cerita ini tentang aku, yang selalu menaruh rasa kagum pada perjuangan orang tua. Yang dalam keterbatasan banyak hal, mereka selalu berusaha melakukan apa yang mereka bisa demi yang terbaik untuk anak-anaknya, khususnya aku. 

Siang itu, sekitar 10 tahun yang lalu, di sebuah siang yang terik atas ganasnya sinar  mentari, ibuku mengeluarkan sebuah pernyataan yang tak akan pernah bisa aku lupakan. 

Saat itu, kami sedang beristirahat dari menebas ilalang di sebuah kebun yang penuh semak belukar hanya untuk berkebun. Bekal nasi dengan lauk pucuk ubi santan didampingi goreng ikan asin begitu lahap kami makan. Tak perduli baju basah kuyup sebab keringat yang mengucur deras di badan, tak perduli aroma kurang sedap karena keringat bercucuran, rasa lapar mengalahkan apa yang seharusnya diperdulikan itu. Saat sedang asik menikmati bekal yang kami bawa, tiba-tiba ibuku berucap ;

"Ayah dan ibu banting tulang bekerja keras di kebun seperti ini, adalah agar bisa membiyayai sekolah kalian lebih tinggi dari ayah dan ibu dulu, hal itu, agar kalian ketika sudah dewasa nanti, menikmati hidup yang lebih enak dari kami. Bisa bekerja di kantoran mungkin, bisa menjadi guru mungkin, bisa menjadi orang yang dihormati dimasyarakat mungkin. Orang yang berpendidikan rendah hanya bertani lah yang mudah pekerjaan tersedia. Sulit untuk mendapatkan perkerjaan baik dari itu. Sementara bertani, membutuhkan tenaga yang extra." Ujar ibu kala itu sambil memandangi aku dan adikku yang ikut ke kebun. 

Saat itu orangtuaku memang sedang memperjuangkan sekolahku yang sudah masuk Madrasah Aliah (setara SMA). Aku ingat sekali itu. Kondisi ekomonim keluargaku memang tergolong pas-pasan, sehingga orang tua bisa menyekolahkan anaknya dengan tinggi menjadi kebanggan tersendiri walau kondisinya dianggab orang-orang kampung tidak memungkinkan. Sebab banyak teman-teman semasa sekolah dasar ku yang tidak bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi karena masalah yang sama. Aku menjadi anak yang beruntung karena memiliki orang tua yang berusaha keras memperjuangkan pendidikanku. 

Yang paling membuat aku selalu kagum adalah bahwa orang tua, yang dipikirkannya bukan bagaimana balasan anaknya nanti setelah menjadi dewasa dan berhasil terhadapnya. Ia hanya berharap anaknya nanti hidup tidak susah seperti susahnya dirinya, tidak menderita, tidak lagi kerja di semak belukar terbakar matahari, tidak lagi bekerja memeras keringat setiap hari. Dengan kesusahan perjuangannya terhadap pendidikan anak, ia hanya menghrapkan kebahagaian hidup anaknya itu. Tak terucap harapan agar anaknya nanti bisa membelikan rumah bagus, mobil mewah, kebun luas atau semua hal yang berkaitan dengan harta benda untuknya. sekali lagi, hal itu tidak pernah terucap.

Atas dasar itu lah, aku tak pernah bisa melupakan pernyataan itu. Aku selalu termotivasi untuk selalu membahagiakan mereka, walau saat ini aku menyadari masih belum mampu mebhagaiakannya. Satu hal yang sudah bisa aku lakukan yang mungkin bisa meyakinkan mereka bahwa mereka sudah berhasil memperjuagkan pendidikan anaknya adalah sampai ke jenjang yang sangat baik. Terimakasih Ibu dan Ayah.





1 komentar: