Cerita ini
tentang aku, yang selalu menaruh rasa kagum pada perjuangan orang tua. Yang
dalam keterbatasan banyak hal, mereka selalu berusaha melakukan apa yang mereka
bisa demi yang terbaik untuk anak-anaknya, khususnya aku.
Siang itu,
sekitar 10 tahun yang lalu, di sebuah siang yang terik atas ganasnya sinar
mentari, ibuku mengeluarkan sebuah pernyataan yang tak akan pernah bisa
aku lupakan.
Saat itu,
kami sedang beristirahat dari menebas ilalang di sebuah kebun yang penuh semak
belukar hanya untuk berkebun. Bekal nasi dengan lauk pucuk ubi santan
didampingi goreng ikan asin begitu lahap kami makan. Tak perduli baju basah
kuyup sebab keringat yang mengucur deras di badan, tak perduli aroma kurang
sedap karena keringat bercucuran, rasa lapar mengalahkan apa yang seharusnya
diperdulikan itu. Saat sedang asik menikmati bekal yang kami bawa, tiba-tiba
ibuku berucap ;
"Ayah
dan ibu banting tulang bekerja keras di kebun seperti ini, adalah agar bisa
membiyayai sekolah kalian lebih tinggi dari ayah dan ibu dulu, hal itu, agar
kalian ketika sudah dewasa nanti, menikmati hidup yang lebih enak dari kami.
Bisa bekerja di kantoran mungkin, bisa menjadi guru mungkin, bisa menjadi orang
yang dihormati dimasyarakat mungkin. Orang yang berpendidikan rendah hanya
bertani lah yang mudah pekerjaan tersedia. Sulit untuk mendapatkan perkerjaan baik
dari itu. Sementara bertani, membutuhkan tenaga yang extra." Ujar ibu kala
itu sambil memandangi aku dan adikku yang ikut ke kebun.
Saat itu orangtuaku
memang sedang memperjuangkan sekolahku yang sudah masuk Madrasah Aliah (setara
SMA). Aku ingat sekali itu. Kondisi ekomonim keluargaku memang tergolong pas-pasan,
sehingga orang tua bisa menyekolahkan anaknya dengan tinggi menjadi kebanggan
tersendiri walau kondisinya dianggab orang-orang kampung tidak memungkinkan.
Sebab banyak teman-teman semasa sekolah dasar ku yang tidak bisa melanjutkan
sekolah lebih tinggi karena masalah yang sama. Aku menjadi anak yang beruntung
karena memiliki orang tua yang berusaha keras memperjuangkan
pendidikanku.
Yang paling
membuat aku selalu kagum adalah bahwa orang tua, yang dipikirkannya bukan
bagaimana balasan anaknya nanti setelah menjadi dewasa dan berhasil
terhadapnya. Ia hanya berharap anaknya nanti hidup tidak susah seperti susahnya
dirinya, tidak menderita, tidak lagi kerja di semak belukar terbakar matahari,
tidak lagi bekerja memeras keringat setiap hari. Dengan kesusahan perjuangannya
terhadap pendidikan anak, ia hanya menghrapkan kebahagaian hidup anaknya
itu. Tak terucap harapan agar anaknya nanti bisa membelikan rumah bagus,
mobil mewah, kebun luas atau semua hal yang berkaitan dengan harta benda
untuknya. sekali lagi, hal itu tidak pernah terucap.
Atas dasar
itu lah, aku tak pernah bisa melupakan pernyataan itu. Aku selalu termotivasi
untuk selalu membahagiakan mereka, walau saat ini aku menyadari masih belum mampu
mebhagaiakannya. Satu hal yang sudah bisa aku lakukan yang mungkin bisa
meyakinkan mereka bahwa mereka sudah berhasil memperjuagkan pendidikan anaknya
adalah sampai ke jenjang yang sangat baik. Terimakasih Ibu dan Ayah.

(h)
BalasHapus