17.29
1


Di sebuah sore saat akan pulang dari kantor tempat berkerja, tepatnya berada diparkiran motor depan kantor, saat itu masih banyak teman-teman satu kantor yang sedang duduk di atas motor berkumpul hanya untuk mengobrol ringan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Lalu, datang seorang wanita muda mengendarai sepeda motor menuju arah kerumunan kami yang kesemua laki-laki. 

Tanpa rasa malu atau takut, wanita muda itu menawarkan dagangannya kepada kami. Dagangannya bukan roti atau buah-buahan segar, melainkan hanya makanan yang terbuat dari ubi kayu yang direbus lalu digiling sampai halus dan dicampuri dengan ampas kelapa. Banyak orang menyebut makanan itu bernama getuk. Satu bungkusnya wanita muda itu menjualnya dengan harga 5 ribu rupiah. Salah satu dari temanku membelinya, tetapi tidak banyak, hanya sekitar 2 bungkus seingatku. Entah karena kasihan, atau hanya ingin menghormati kerja keras wanita itu, tetapi teman kerjaku itu memang membelinya dan kami makan ramai-ramai getuk itu. Sedangkan aku sendiri tidak membelinya karena memang sedang tidak ada uang kecil di saku. 

Setelah berhasil menjual 2 bungkus dagangannya ia terlihat masih belum puas. Dengan keberaniannya ia “menggoda” kami untuk membeli lagi dagangannya. Rasanya seperti sudah dilatih ilmu marketing wanita ini, karena tanpa rasa grogi atau takut ia begitu berani menawarkan barang dagangannya, yang hanya makan khas desa. Walaupun usahanya itu tidak berhasil lagi membuat kami untuk membeli getuknya lagi. Sehingga karena sudah tidak berhasil membujuk kami untuk membeli lagi, degan sopan ia izin pergi meninggalkan kami dan  tidak lupa mengucapkan terimakasih. 

Setelah perlahan gadis muda itu mulai terlihat jauh meninggalkan kami, aku baru menyadari, betapa hebatnya mental wanita muda itu. Ia tidak malu menawarkan dagangan kepada kami di antara kerumunan yang semuanya laki-laki. Padahal yang dijualnya hanya makanan dari ubi, yang sekilas terlihat tidak ada istimewanya dibandingkan makan kota yang sudah begitu ragam adanya. Tapi gadis itu begitu pede menjualnya. Tidak tahu apakah motivasinya karena memang terdesak kebutuhan ekonomi, atau karena belum ada pekerjaan yang menghasilkan uang belanja kebutuhannya, namun, keberaniannya itu menjual makan desa di keramaian kota adalah sebuah mental yang sangat hebat. 

Keberaniannya itu tidak mampu membuatku untuk tidak memuji bahwa dia wanita yang hebat. dasar dari pujianku ini adalah karena seandainya aku yang berada dalam posisi nya itu untuk menjual makanan seperti yang dijualnya itu, jujur aku tidak berani. Mentalku tidak sekuat wanita itu. Memang pasa saat bertemu  wanita itu tidak sempat menayakan nama dan alamat tinggalnya, tetap saja dia menurutku wanita yang hebat. Dan tentu saja menginspirasi untuk menjadi lebih berani!!!!.

1 komentar:

  1. sekarang dia udah jadi artis tapi pas ngga ada job tetep jadi penjual gethuk. asli keren ini mah (h)

    BalasHapus