Di sebuah sore saat akan pulang
dari kantor tempat berkerja, tepatnya berada diparkiran motor depan kantor,
saat itu masih banyak teman-teman satu kantor yang sedang duduk di atas motor
berkumpul hanya untuk mengobrol ringan sebelum pulang ke rumah masing-masing. Lalu,
datang seorang wanita muda mengendarai sepeda motor menuju arah kerumunan kami
yang kesemua laki-laki.
Tanpa rasa malu atau takut,
wanita muda itu menawarkan dagangannya kepada kami. Dagangannya bukan roti atau
buah-buahan segar, melainkan hanya makanan yang terbuat dari ubi kayu yang
direbus lalu digiling sampai halus dan dicampuri dengan ampas kelapa. Banyak
orang menyebut makanan itu bernama getuk. Satu bungkusnya wanita muda itu
menjualnya dengan harga 5 ribu rupiah. Salah satu dari temanku membelinya,
tetapi tidak banyak, hanya sekitar 2 bungkus seingatku. Entah karena kasihan,
atau hanya ingin menghormati kerja keras wanita itu, tetapi teman kerjaku itu
memang membelinya dan kami makan ramai-ramai getuk itu. Sedangkan aku sendiri
tidak membelinya karena memang sedang tidak ada uang kecil di saku.
Setelah berhasil menjual 2 bungkus
dagangannya ia terlihat masih belum puas. Dengan keberaniannya ia “menggoda”
kami untuk membeli lagi dagangannya. Rasanya seperti sudah dilatih ilmu
marketing wanita ini, karena tanpa rasa grogi atau takut ia begitu berani
menawarkan barang dagangannya, yang hanya makan khas desa. Walaupun usahanya
itu tidak berhasil lagi membuat kami untuk membeli getuknya lagi. Sehingga
karena sudah tidak berhasil membujuk kami untuk membeli lagi, degan sopan ia
izin pergi meninggalkan kami dan tidak
lupa mengucapkan terimakasih.
Setelah perlahan gadis muda itu mulai
terlihat jauh meninggalkan kami, aku baru menyadari, betapa hebatnya mental wanita
muda itu. Ia tidak malu menawarkan dagangan kepada kami di antara kerumunan
yang semuanya laki-laki. Padahal yang dijualnya hanya makanan dari ubi, yang
sekilas terlihat tidak ada istimewanya dibandingkan makan kota yang sudah
begitu ragam adanya. Tapi gadis itu begitu pede menjualnya. Tidak tahu apakah
motivasinya karena memang terdesak kebutuhan ekonomi, atau karena belum ada
pekerjaan yang menghasilkan uang belanja kebutuhannya, namun, keberaniannya itu
menjual makan desa di keramaian kota adalah sebuah mental yang sangat hebat.
Keberaniannya itu tidak mampu
membuatku untuk tidak memuji bahwa dia wanita yang hebat. dasar dari pujianku ini
adalah karena seandainya aku yang berada dalam posisi nya itu untuk menjual
makanan seperti yang dijualnya itu, jujur aku tidak berani. Mentalku tidak
sekuat wanita itu. Memang pasa saat bertemu wanita itu tidak sempat menayakan nama dan
alamat tinggalnya, tetap saja dia menurutku wanita yang hebat. Dan tentu saja
menginspirasi untuk menjadi lebih berani!!!!.

sekarang dia udah jadi artis tapi pas ngga ada job tetep jadi penjual gethuk. asli keren ini mah (h)
BalasHapus