19.14
0

Sekitar 2 minggu yang lalu, di saat kerja sedang menunggu untuk bertemu dokter spesialis kandungan di sebuah rumah sakit, aku bertemu perempuan yang sekilas terlihat baru berumur di atas 30 tahunan. Dan perempuan itu juga menunggu dokter yang aku tunggu untuk menawarkan produk-produk yang  dijualnya. 

Kulit wajahnya terlihat sudah mengendur. Tubuhnya juga sudah tak lagi berisi seperti wanita-wanita muda kebanyakan. Bahkan maaf, ia terlihat sangat kurus dan kering. Di matanya aku melihat lelah dalam mengahadapi berbagai irama hidup ini. Tetapi ia terlihat tetap tegar. 

"Menunggu dokter itu juga ya, dek?" Tanyanya dengan tangan menunjuk pintu yang nama dokternya terpampang di pintu itu, sehingga membuyarkan pengamatanku terhadapnya. 

"Iya, Kak, kakak menunggunya juga?” Responku dengan meberi senyum. 

"Iya. Sudah lama tidak ketemu dokternya." Tambahnya juga dengan memberi senyum. 

Setelah perbincangan awal itu, sambil menunggu kami pun saling banyak bertukar cerita. Saling tanya jawab mengenai apa saja yang sedang terpikir untuk jadi bahan pembicaraan. Sehingga, dari percakapan kami, ada sebuah cerita yang rasanya menarik untuk dijadikan contoh dan pelajaran. 

Dari hasil perbicangankan dengan wanita itu, ternyata menurutku  ia adalah wanita yang hebat. Ia mau menekuni pekerjaan lapangan, khusunya pada divisi marekting yang terkenal keras dan penuh tekanan demi untuk bisa membantu suaminya memberikan pendidikan yang tinggi pada anak-anak mereka. 

Dari ceritanya, saat ini anaknya sudah 3. Yang pertama sedang kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Mendan. Anak yang ke dua sedang kuliah juga di salah satu perguruan tinggi ternama, tetapi di kota Pekanbaru. Sementara anak yang ke 3 atau yang paling kecil, saat ini masih sekolah di tingat menengah pertama. 

Sepertinya, ia tidak begitu peduli dengan tantangan berat yang ada dalam pekerjaannya asal cita-cita mewujudkan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya dapat terwujud. Sebab, sebagai seorang marketing di perusahaan farmasi, pasti memiliki tanggung jawab pekerjaan yang sangat berat. Mulai dari harus menemui 10 dokter setiap hari yang tempat prakteknya berbeda-beda, tidak hanya di satu rumah sakit sehingga sering pulang malam. Belum lagi masalah penjualan produknya yang setiap hari pihak perusahaan meminta adanya peningkatan, dan berbagai tanggung jawab lain yang pastinya begitu menyita energi dan waktu. Tapi wanita itu terlihat sudah biasanya menjalinya. 

Rasanya, ia juga sudah tidak perduli dengan tubuhnya yang mulai kurus mengering. Barangkali, bukan makanan enak yang dengan mudah dapat ia beli dengan gajihnya yang membuat ia dapat tidur nyenyak, tetapi kemampuannya menyekolahkan anak setinggi mungkin lah yang dapat membuatnya nyaman dalam hidupnya. Sebab pasti, ia sudah merasa melakukan cara yang benar untuk menunaikan tanggung jawab menjaga amanah sang Kholik yang bernama anak. 

Setelah dari pertemuan dan cerita itu, aku menaruh rasa kagum yang sangat besar kepadanya. Dan menurutku, juga sangat menginspirasi serta mengingatkanku untuk bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anakku nanti. Terimakasih ibu yang belum sempat aku kenal namanya, tetapi sudah memberikan pelajaran yang sangat penting. 





0 komentar:

Posting Komentar