Sekitar 2
minggu yang lalu, di saat kerja sedang menunggu untuk bertemu dokter spesialis kandungan
di sebuah rumah sakit, aku bertemu perempuan yang sekilas terlihat baru berumur
di atas 30 tahunan. Dan perempuan itu juga menunggu dokter yang aku tunggu untuk
menawarkan produk-produk yang dijualnya.
Kulit
wajahnya terlihat sudah mengendur. Tubuhnya juga sudah tak lagi berisi seperti
wanita-wanita muda kebanyakan. Bahkan maaf, ia terlihat sangat kurus dan
kering. Di matanya aku melihat lelah dalam mengahadapi berbagai irama hidup ini.
Tetapi ia terlihat tetap tegar.
"Menunggu
dokter itu juga ya, dek?" Tanyanya dengan tangan menunjuk pintu yang nama
dokternya terpampang di pintu itu, sehingga membuyarkan pengamatanku terhadapnya.
"Iya, Kak,
kakak menunggunya juga?” Responku dengan meberi senyum.
"Iya.
Sudah lama tidak ketemu dokternya." Tambahnya juga dengan memberi
senyum.
Setelah
perbincangan awal itu, sambil menunggu kami pun saling banyak bertukar cerita.
Saling tanya jawab mengenai apa saja yang sedang terpikir untuk jadi bahan
pembicaraan. Sehingga, dari percakapan kami, ada sebuah cerita yang rasanya
menarik untuk dijadikan contoh dan pelajaran.
Dari hasil
perbicangankan dengan wanita itu, ternyata menurutku ia adalah wanita yang hebat. Ia mau menekuni
pekerjaan lapangan, khusunya pada divisi marekting yang terkenal keras dan
penuh tekanan demi untuk bisa membantu suaminya memberikan pendidikan yang
tinggi pada anak-anak mereka.
Dari
ceritanya, saat ini anaknya sudah 3. Yang pertama sedang kuliah di sebuah
perguruan tinggi ternama di kota Mendan. Anak yang ke dua sedang kuliah juga di
salah satu perguruan tinggi ternama, tetapi di kota Pekanbaru. Sementara anak
yang ke 3 atau yang paling kecil, saat ini masih sekolah di tingat menengah
pertama.
Sepertinya,
ia tidak begitu peduli dengan tantangan berat yang ada dalam pekerjaannya asal
cita-cita mewujudkan pendidikan yang tinggi untuk anak-anaknya dapat terwujud.
Sebab, sebagai seorang marketing di perusahaan farmasi, pasti memiliki tanggung
jawab pekerjaan yang sangat berat. Mulai dari harus menemui 10 dokter setiap
hari yang tempat prakteknya berbeda-beda, tidak hanya di satu rumah sakit
sehingga sering pulang malam. Belum lagi masalah penjualan produknya yang
setiap hari pihak perusahaan meminta adanya peningkatan, dan berbagai tanggung
jawab lain yang pastinya begitu menyita energi dan waktu. Tapi wanita itu terlihat
sudah biasanya menjalinya.
Rasanya, ia
juga sudah tidak perduli dengan tubuhnya yang mulai kurus mengering.
Barangkali, bukan makanan enak yang dengan mudah dapat ia beli dengan gajihnya
yang membuat ia dapat tidur nyenyak, tetapi kemampuannya menyekolahkan anak
setinggi mungkin lah yang dapat membuatnya nyaman dalam hidupnya. Sebab pasti,
ia sudah merasa melakukan cara yang benar untuk menunaikan tanggung jawab
menjaga amanah sang Kholik yang bernama anak.
Setelah dari
pertemuan dan cerita itu, aku menaruh rasa kagum yang sangat besar kepadanya.
Dan menurutku, juga sangat menginspirasi serta mengingatkanku untuk bertanggung
jawab terhadap pendidikan anak-anakku nanti. Terimakasih ibu yang belum sempat
aku kenal namanya, tetapi sudah memberikan pelajaran yang sangat penting.

0 komentar:
Posting Komentar