Aku sedang duduk di ruang tunggu lobi sebuah rumah sakit, tiba-tiba seorang kawan yang aku mengenalnya di kampus tempat kuliah dulu namun berbeda jurusan datang melintas dengan membawa anaknya yang masih kecil.
Karena sudah
lama tidak bertemu, tentum kami bertegur sapa. Beribncang barang sejanak
terkait kabar, tempat tinggal, dan tentu pekerjaan. Satu yang tertinggal, saat
aku tanya urusan apa yang dilakukan di RS tersebut, ia menyampaikan bahwa
istrinya yang sedang mengandung anak ke duanya saat ini sedang di rawat, sudah
empat hari. Mendengar itu tentu saja aku ikut berempati. Dan juga tak terlepas
memberinya doa supaya istrinya segera diberi kesembuhan.
Akan tetapi,
bukan hanya soal istrinya yang sedang sakit itu saja yang membuatku bersedih.
Ada masalah lain yang sedang menimpanya. Aku mengetahui masalahnya saat aku
menjawab pertanyaannya mengenai pekerjaanku. Saat aku samapikan bahwa aku saat
ini berkativitas di perusahaan farmasi pada divisi mareketingnya, ia bertanya
apakah masih ada lowongan yang kosong atau tidak.
Atas dasar
pertanyaannya itu, aku membalasnya dengan pertanyaan juga, "loh, memang
kenapa? Bukannya kamu sudah enak kerja di bank?" Tanyaku karena aku tahu
ia memang bekerja di sebuah bank swasta.
Sebeleum
menjawab, wajahnya langsung berubah tak semangat. "Bulan ini terakhir aku
dan beberapa temanku bekerja di bank itu. Di tempat kerjaku saat ini sedang
diadakan PHK besar-besaran, dan aku yang terkena salah satunya. Kondisi pasar
di 2015 ini sangat buruk, sehingga beberapa cabang perusahaan kami ini khusunya
di Riau ini banya yang ditutup karena tak sesuai dengan ekspektasi. Sangat jauh
dari yang diharapkan, sehingga perusaaan tidak mau mengambil resiko untuk rugi
lebih besar lagi. Dan kami yang bekerja diperusahaan itu lah yang jadi
korbanya. benar-benar badai PHK bagi kami." Ujarnya dengan pandangan yang
tak lagi teduh. aku melihat tatapannya penuh beban. Pasti yang terpikir adalah
betapa rintangan begitu besar kedepannya. Menunggu anak kedua hadir tetapi
situasi pekerjaannya sedang terancam tidak nyaman. Aku bisa meraskan itu.
sebuah kekhawatiran yang besar. bahkan teramat besar mungkin.
Aku tak bisa
memberi komentar yang bermacam-macam. selain hanya terheran-heran mendengar
kabar itu dengan didampingi perasaan kasihan. aku lihat ia juga sudah tak mampu
banyak berkata-kata. ia hanya sekali-kali memberi senyum sinis saat menatapku
sambil memegang erat anaknya yang terlihat lasak. anak yang pasti tidak mengerti betapa besar beban pikiran yang
sedang di tanggung oleh ayahnya.
kesedihanku
juga bertambah karena aku belum bisa membantunya untuk sekedar memberikan
informasi lowongan kerja yang sedang terbuka. karena memang saat ini belum ada
informasi dari perusaahan tempatku mencari nafkah yang masih membutuhkan
aggota. atau juga informasi dari perusahaan farmasi lain yang sedang kekerungan
team marketingnya. saat ini memang belum ada.
bahkan,
informasi dari beberapa teman satu propesi di farmasi, saat ini sebagian
perusahaan juga sedang melakukan hal yang sama, yakni pengurangan anggota
kerja. hal ini disebabkan kondisi pasar di tahun 2015 ini memang terlihat
memburuk. penjualan banyak terjadi penurunan, sedangkan biaya oprasional
mengalami peningkatan. sungguh sebuah situasi yang sulit bagi banyak pihak.
sejenak aku
dikagetkan dengan suara sabahatku itu yang pamit untuk kembali ke kamar tempat
istrinya sedang dirawat karena anaknya yang terus merengek untuk meminta
kembali kepada ibunya.
“Begitulah
situasinya saat ini. untung saja biaya istri berobat saat ini ada asuransi.”
ujarnya sambil menjulurkan tangan isyarat bersalaman untuk menutup pertemuan.
ia masih bisa terseyum, walau isi dalam senyum itu pasti berbagai hal yang
memusingkan fikiran.
sambil
memandangnya menjauh dari pandanganku, aku pun terpengaruh untuk memikirkan
kehidupan sahabat itu kedepannya dalam menantikan buah hati yang ke 2 dengan
kondisi pekerjaan yang belum pasti, dengan tetap memberikan doa agar istrinya
segera sembuh dan ia mendapatkan perkjaan yang lebih baik dari yang sebelumnya.
dari
perteimuan itu, kembali terpikir olehku bahwa hidup ini memang keras. tak
seindah seperti yang dibayangkan. Selalu ada halangan dan rintangan yang kadang
tak disangka-sangka menguji ketangguhan diri. Tapi, sebelum kembali melanjutkan
aktivitas pekerjaanku hari itu, pikiranku kembali dikuatkan dengan keyakinan
bahwa Tuhan pasti akan selalu menolong setiap hamba yang berusaha. Adanya cobaaan,
adalah cara Tuhan untuk membuat orang-orang yang memiliki daya juang tangguh
menunjukkan kuliatsnya. yang terpenting jangan putus asa.

0 komentar:
Posting Komentar