07.02
0





Aku sedang duduk di ruang tunggu lobi sebuah rumah sakit, tiba-tiba seorang kawan yang aku mengenalnya di kampus tempat kuliah dulu namun berbeda jurusan datang melintas dengan membawa anaknya yang masih kecil. 
   
Karena sudah lama tidak bertemu, tentum kami bertegur sapa. Beribncang barang sejanak terkait kabar, tempat tinggal, dan tentu pekerjaan. Satu yang tertinggal, saat aku tanya urusan apa yang dilakukan di RS tersebut, ia menyampaikan bahwa istrinya yang sedang mengandung anak ke duanya saat ini sedang di rawat, sudah empat hari. Mendengar itu tentu saja aku ikut berempati. Dan juga tak terlepas memberinya doa supaya istrinya segera diberi kesembuhan. 

Akan tetapi, bukan hanya soal istrinya yang sedang sakit itu saja yang membuatku bersedih. Ada masalah lain yang sedang menimpanya. Aku mengetahui masalahnya saat aku menjawab pertanyaannya mengenai pekerjaanku. Saat aku samapikan bahwa aku saat ini berkativitas di perusahaan farmasi pada divisi mareketingnya, ia bertanya apakah masih ada lowongan yang kosong atau tidak. 

Atas dasar pertanyaannya itu, aku membalasnya dengan pertanyaan juga, "loh, memang kenapa? Bukannya kamu sudah enak kerja di bank?" Tanyaku karena aku tahu ia memang bekerja di sebuah bank swasta. 

Sebeleum menjawab, wajahnya langsung berubah tak semangat. "Bulan ini terakhir aku dan beberapa temanku bekerja di bank itu. Di tempat kerjaku saat ini sedang diadakan PHK besar-besaran, dan aku yang terkena salah satunya. Kondisi pasar di 2015 ini sangat buruk, sehingga beberapa cabang perusahaan kami ini khusunya di Riau ini banya yang ditutup karena tak sesuai dengan ekspektasi. Sangat jauh dari yang diharapkan, sehingga perusaaan tidak mau mengambil resiko untuk rugi lebih besar lagi. Dan kami yang bekerja diperusahaan itu lah yang jadi korbanya. benar-benar badai PHK bagi kami." Ujarnya dengan pandangan yang tak lagi teduh. aku melihat tatapannya penuh beban. Pasti yang terpikir adalah betapa rintangan begitu besar kedepannya. Menunggu anak kedua hadir tetapi situasi pekerjaannya sedang terancam tidak nyaman. Aku bisa meraskan itu. sebuah kekhawatiran yang besar. bahkan teramat besar mungkin.

Aku tak bisa memberi komentar yang bermacam-macam. selain hanya terheran-heran mendengar kabar itu dengan didampingi perasaan kasihan. aku lihat ia juga sudah tak mampu banyak berkata-kata. ia hanya sekali-kali memberi senyum sinis saat menatapku sambil memegang erat anaknya yang terlihat lasak. anak yang pasti  tidak mengerti betapa besar beban pikiran yang sedang di tanggung oleh ayahnya.

kesedihanku juga bertambah karena aku belum bisa membantunya untuk sekedar memberikan informasi lowongan kerja yang sedang terbuka. karena memang saat ini belum ada informasi dari perusaahan tempatku mencari nafkah yang masih membutuhkan aggota. atau juga informasi dari perusahaan farmasi lain yang sedang kekerungan team marketingnya. saat ini memang belum ada.

bahkan, informasi dari beberapa teman satu propesi di farmasi, saat ini sebagian perusahaan juga sedang melakukan hal yang sama, yakni pengurangan anggota kerja. hal ini disebabkan kondisi pasar di tahun 2015 ini memang terlihat memburuk. penjualan banyak terjadi penurunan, sedangkan biaya oprasional mengalami peningkatan. sungguh sebuah situasi yang sulit bagi banyak pihak.

sejenak aku dikagetkan dengan suara sabahatku itu yang pamit untuk kembali ke kamar tempat istrinya sedang dirawat karena anaknya yang terus merengek untuk meminta kembali kepada ibunya.

“Begitulah situasinya saat ini. untung saja biaya istri berobat saat ini ada asuransi.” ujarnya sambil menjulurkan tangan isyarat bersalaman untuk menutup pertemuan. ia masih bisa terseyum, walau isi dalam senyum itu pasti berbagai hal yang memusingkan fikiran.  

sambil memandangnya menjauh dari pandanganku, aku pun terpengaruh untuk memikirkan kehidupan sahabat itu kedepannya dalam menantikan buah hati yang ke 2 dengan kondisi pekerjaan yang belum pasti, dengan tetap memberikan doa agar istrinya segera sembuh dan ia mendapatkan perkjaan yang lebih baik dari yang sebelumnya.

dari perteimuan itu, kembali terpikir olehku bahwa hidup ini memang keras. tak seindah seperti yang dibayangkan. Selalu ada halangan dan rintangan yang kadang tak disangka-sangka menguji ketangguhan diri. Tapi, sebelum kembali melanjutkan aktivitas pekerjaanku hari itu, pikiranku kembali dikuatkan dengan keyakinan bahwa Tuhan pasti akan selalu menolong setiap hamba yang berusaha. Adanya cobaaan, adalah cara Tuhan untuk membuat orang-orang yang memiliki daya juang tangguh menunjukkan kuliatsnya. yang terpenting jangan putus asa.

Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar