Di sebuah desa yang
masih sangat jauh dari keramaian, yang berbatasan langsung dengan hutan dan
semak belukar, saya mengawali masa kecil. Tepat di depan pondok yang kami
jadikan rumah berteduh dari keganasan cuaca alam, hidup tiga orang lajang, anak
rantau yang bekerja sebagai penebang hutang untuk dijadikan kebun tanaman.
Dalam menyelesaikan
pekerjaanya, ketiga pemuda tersebut masing-masing mendapatkan jatah 1 kaplingan
lahan (sekitar 2 HA) luasnya yang harus mereka tebang. Semakin giat mereka
bekerja, tentu semakin luas hutan yang
mereka tebang, maka akan semakin besar penghasilan yang akan mereka dapatkan.
Di saat kaplingan hutan
sudah mereka bagi untuk dikerjakan masing-masing, dengan bercanda untuk
motivasi kerja mereka pun mengadakan lomba untuk siapa yang paling cepat
menyelesaikan penebangan hutan yang sudah dikaplingkan tadi. Setelah kapak
terasah dengan tajam, mereka pun siap bertempur dengan kayu-kayu hutan yang
besar lagi menyeramkan.
Pemuda pertama dengan
semangat begitu sampai di hutan, langsung menebang pohon yang tampak di depan
mata tanpa pilih memilih. Pemuda kedua pun sama, tidak ada cara khusus untuk
membantai hutan yang lebat itu. Satu demi satu pohon-pohon yang pertama tampak
gagah itu terlihat tak berdaya setelah kapak yang tajam perlahan menggerogoti
batang bawahnya. Dengan cara ini, kedua pemuda tadi dapat menyelesaikan
penebangan pohon dalam 1 kaplingan selama satu minggu.
Sementara pemuda
ketiga, tidak sampai satu minggu menyelesaikan penebangan pohon yang telah
menjadi tugasnya. Ia hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikan
penebangan hutan satu kapling itu. Dengan ini, kedua temannya tentu saja heran,
kenapa ia bisa secepat itu. Sementara mereka hanya mampu menebang semua pohon
selama satu minggu. Kapaknya sama tajam, pohon juga tidak jauh berbeda, hampir
sama besar. Dengan kenyataan ini, tentu saja menimbulkan tanya bagi ke dua
pemuda tersebut.
“Teman, kami
membutuhkan waktu satu minggu untuk menebang pohon di hutan itu, sementara kamu
hanya 3 hari dengan peralatan yang sama, bagaimana caranya?” Tanya kedua pemuda
itu dengan penasaran.
“hmmm, kerja itu harus
punya strategi!” ucapnya sambil mengaduk gula dalam segelas air bercampur teh
yang baru dibuatnya.
“maksudnya bagaimana?
Ini hanya soal menebang kayu, bukan masalah pemenangan politik, harus pakai
strategi segala.” Tambah kedua temannya itu semakin penasaran.
“ya strategi itu
penting” pemuda ketiga itu tersenyum. “saat masuk ke hutan, aku tidak langsung
menebang pohon yang terlihat. Tetapi aku mencari pohon yang paling besar, dan
melihat arah condongnya, setelah jumpa, lantas aku potong sebagian batang pohon-pohon
yang lebih kecil yang berada di sekitarnya yang ketika pohon besar tadi tumbang
akan menimpahi pohon-pohon kecil itu, dengan begitu, pohon-pohon kecil yang
sudah aku potong separuh dari batangnya akan tertimpa pohon besar dan tentu
saja akan terikut menjadi tumbang. Karena itulah aku cepat dalam menebang pohon
di hutan itu.” Ucap pemuda ketiga itu sambil menyeruput teh yang tadi
dibuatnya.
Dua pemuda pertama tadi
pun mengangguk-angguk, seraya baru tersadar bahwa ternyata untuk hal sekecil
itu pun ada srtateginya agar lebih cepat selesai dalam menjalankan tugas.
Diambil
dari sebuah obrolan ringan di lingkungan hidup masa kecil dengan cerita yang
sedikit dimodivikasi.
0 komentar:
Posting Komentar