20.22
0



“sekarang ini, biarlah ibu dan bapakmu susah, banting tulang peras keringat bekerja mencari biaya untuk kalian sekolah, biar kalian nanti kalau sudah besar dan punya ilmu hidupnya gak sesusah ibu lagi, nak.” Kata ibu waktu aku baru berkisar kelas dua SMA di siang yang terik dengan keganasan matahari. Di bawah pohon sawit yang masih kecil di sebuah kebun untuk sekedar berlindung dari panas sambil menikmati nasi bersayurkan pucuk ubi yang terasa sangat nikmat.
Aku tertunduk. Tak tega melihat wajahnya yang kusam akibat hari-harinya berpanas-panasan. Kain tua yang dijadikan penutup rambut terlihat sangat kumal. Tubuhnya berkeringat akibat kerja otot menebas ilalang di kebun. Walau mata tak mengeluarkan Kristal bening, tapi sejujurnya hati ini menangis.
Aku kagum dengan Ibu dan Ayah, di saat susah secara ekonomi dibarengi dengan pusingnya memikirkan biaya anak sekolah, ia tidak berharap besar untuk mendapat balasan yang berbentuk materi dari anaknya. tapi ia masih bisa memikirkan yang penting anaknya tidak hidup dalam kesusahaan seperti yang sedang dialaminya saat itu. Ibu dan Ayah, memang sosok yang tidak boleh lupa untuk dikagumi dan disayangi. 

0 komentar:

Posting Komentar