“sekarang ini, biarlah ibu dan bapakmu susah, banting tulang
peras keringat bekerja mencari biaya untuk kalian sekolah, biar kalian nanti
kalau sudah besar dan punya ilmu hidupnya gak sesusah ibu lagi, nak.” Kata ibu
waktu aku baru berkisar kelas dua SMA di siang yang terik dengan keganasan
matahari. Di bawah pohon sawit yang masih kecil di sebuah kebun untuk sekedar
berlindung dari panas sambil menikmati nasi bersayurkan pucuk ubi yang terasa
sangat nikmat.
Aku tertunduk. Tak tega melihat wajahnya yang kusam akibat
hari-harinya berpanas-panasan. Kain tua yang dijadikan penutup rambut terlihat
sangat kumal. Tubuhnya berkeringat akibat kerja otot menebas ilalang di kebun.
Walau mata tak mengeluarkan Kristal bening, tapi sejujurnya hati ini menangis.
Aku kagum dengan Ibu dan Ayah, di saat susah secara ekonomi
dibarengi dengan pusingnya memikirkan biaya anak sekolah, ia tidak berharap
besar untuk mendapat balasan yang berbentuk materi dari anaknya. tapi ia masih
bisa memikirkan yang penting anaknya tidak hidup dalam kesusahaan seperti yang
sedang dialaminya saat itu. Ibu dan Ayah, memang sosok yang tidak boleh lupa
untuk dikagumi dan disayangi.
0 komentar:
Posting Komentar