02.42
0




Menjalani ibadah pertama di malam ramadhan tahun 1435 H kali ini, seorang ustad di sebuah masjid mengawali ceramahnya dengan sebuah pertanyaan yang sangat menarik. Mengapa Tuhan memberikan kita bulan ramadhan? Ustad  itu memberikan jawabannya adalah karena Tuhan itu begitu sayang dengan kita yang masih bisa menemui bulan penuh berkah ini. karena, ramadhan adalah diberikan tuhan sebagi bonus atau hadiah kepada kita. Dengannya kita memiliki kesempatan untuk membakar semua dosa-dosa yang pasti sudah menggunung dalam cacatan malaikat untuk diri kita. Bulan ramadhan inilah tempatnya yang paling tepat untuk berserah diri dengan tanpa malu mengakui kesalahan kita kepada tuhan yang maha esa dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, karena di bulan ramadhan semua amal ibadah dilipat gandakan. Begitulah jawaban seorang ustad itu dalam meberikan ceramahnya pada terawih malam pertama di masjid tempat saya menjalankan ibadah sunnah tarawih.

Ya memang seharusnya betapa senangnya kita saat datangnya bulannya ramdhan ini, karena bulan ini benar-benar menjadi peluang bagi kita untuk memperbanyak ibadah karena semua ibadah dillipat gandakan nilainya oleh Allah. Benar-benar bonus yang berlipat. Kalau saja bisa dikatan bahwa beribadah di bulan biasa satu kebaikan hanya mendapat nilai satu, tetapi di bulan ramdhan ini bisa sepuluh kali lipat nilainya. Bulan ramadhan adalah sebuat moment yang tidak boleh terlewat untuk melebur semua dosa yang pasti sudah banyak kita perbuat.

Mungkin kita belum menyadari betapa beruntungnya kita, karena bulan yang penuh rahmat itu masih bisa kita hampiri. Kalau saja kita sudah terlebih dahulu dipanggil oleh tuhan untuk menghadap-Nya, kita tidak punya kesempatan memperbaiki diri di bulan ramadhan tahun ini. Ini adalah sebuah kesempatan yang sangat baik. Mari kita bergembira menyambutnya dan beribadah dalam hari-harinya, karena ketika kita gembira menyambutnya, jiwa kita juga akan antusias dalam menjalan rangkaian ibadah yang ada dalam bulan penuh berkah ini. Marhaban ya ramadhan. Ayo berpuasa.  



Mufidin

0 komentar:

Posting Komentar