cerita ini nyata, aku alami saat
aku masih kecil, sekitar kelas lima SD lah saat itu, dan adik kandung di bawahku sekitar kelas 1 SD kalau tidak
salah. Tetapi, ini menjadi memori yang tidak terlupakan dalam hidupku. Walau
hanya sepele, namun memiliki nilai pelajaran yang sangat berarti.
Ceritanya, waktu itu tetangga di
dekat rumahku sedang mengadakan pesta sunatan anaknya. Sebagaimana kebiasaan
dikampungku, setiap kali ada yang mengadakan pesta dibarengi dengan hiburan
orgen tunggal yang istilah dikampungku dikenal dengan kibot, pasti akan selalu banyak yang menjadi pedagang dadakan,
mulai dari jual jajanan, bakso, miesyo, dan tentu saja mainan anak-anak.
Karena aku dan adikku masih
kecil, masih masuk dalam kategori anak-anak, tentu kami memilih membeli mainan.
Pada saat itu adikku yang membeli mainan. Ia membeli mainan semacam cairan yang
ketika ditiup dari selang kecil yang sudah ada pada kemasan akan menghasilkan
bola-bola kecil yang bisa terbang, saya lupa nama mainannya itu apa.
Adikku membeli mainan itu dengan uang seribu
rupiah dan mendapatkan 4 buah botol kecil mainan. Tentu ia dan aku senang.
Tetapi saat akan menggunakan mainan itu, entah dari mana bisikannya tiba-tiba
adikku tersadar bahwa katanya abang yang jualan itu telah salah. Setahunya harga
mainan itu satu botol kecilnya 500 rupiah. “bang,
abang yang jualan itu salah, kok beli seribu dikasih empat, kan satu
harganya 500 bg” kata adikku mengadu
kepadaku polos.
Ibu kami selalu mengajari kami
untuk belajar jujur. Tidak boleh mengambil yang bukan milik, tidak boleh
berbohong, dan harus menyerahkan sesuatu barang kepada yang punya bila kami
temukan. Karena masih anak-anak yang polos, pesan ibu itu begitu membekas.
Dengan kepolosan juga, aku ajak adikku untuk memulangkan 2 botol mainan yang
sudah di beli tadi.
Sesampainya di tempat abang yang
jualan itu, dengan berani aku menghampiri. Aku sampaikan bahwa abang itu telah
salah menjual, seharusnya adikku dapat dua, bukan empat, terus yang dua botol
lagi itu aku kembalikan.
“adik kok baik dan jujur kali???, terimakasih ya!!” balas abang
yang jualan itu. Aku tersenyum malu. Hatiku melambung tinggi, betapa senangnya
masih kecil sudah dibilang baik. Lantas kami tinggalkan abang itu dengan rasa
puas.
Setelah itu kami jumpa teman yang
tadi juga membeli mainan yang sama. Dia cerita beli seribu dapat empat. Teman
yang lain juga menyampaikan hal yang sama. Ternyata kami yang salah. Harga
mainan itu memang seribu dapat 4, satunya 250 rupiah. alamak!, dalam hati aku
merasa sedikit malu. Ingin meminta dengan abang yang jualan tadi tentu sajajuga
malu. aku dan adikku hanya saling pandang dan tidak memberitahukan kepada teman
bahwa kami beli seribu hanya dapat 2, lantas asik bermain dengan teman-teman.
Hanya saja, sampai sekarang ketika mengingat cerita ini, dalam hati selalu
tergelitik malu. tapi tak mengapalah, setidaknya sudah belajar jujur, walaupun
salah. Hehehe.
0 komentar:
Posting Komentar