19.44
0




cerita ini nyata, aku alami saat aku masih kecil, sekitar kelas lima SD lah saat itu, dan adik kandung  di bawahku sekitar kelas 1 SD kalau tidak salah. Tetapi, ini menjadi memori yang tidak terlupakan dalam hidupku. Walau hanya sepele, namun memiliki nilai pelajaran yang sangat berarti. 

Ceritanya, waktu itu tetangga di dekat rumahku sedang mengadakan pesta sunatan anaknya. Sebagaimana kebiasaan dikampungku, setiap kali ada yang mengadakan pesta dibarengi dengan hiburan orgen tunggal yang istilah dikampungku dikenal dengan kibot, pasti akan selalu banyak yang menjadi pedagang dadakan, mulai dari jual jajanan, bakso, miesyo, dan tentu saja mainan anak-anak. 

Karena aku dan adikku masih kecil, masih masuk dalam kategori anak-anak, tentu kami memilih membeli mainan. Pada saat itu adikku yang membeli mainan. Ia membeli mainan semacam cairan yang ketika ditiup dari selang kecil yang sudah ada pada kemasan akan menghasilkan bola-bola kecil yang bisa terbang, saya lupa nama mainannya itu apa. 

 Adikku membeli mainan itu dengan uang seribu rupiah dan mendapatkan 4 buah botol kecil mainan. Tentu ia dan aku senang. Tetapi saat akan menggunakan mainan itu, entah dari mana bisikannya tiba-tiba adikku tersadar bahwa katanya abang yang jualan itu telah salah. Setahunya harga mainan itu satu botol kecilnya 500 rupiah. “bang, abang yang jualan itu salah, kok beli seribu dikasih empat, kan satu harganya  500 bg” kata adikku mengadu kepadaku polos.

Ibu kami selalu mengajari kami untuk belajar jujur. Tidak boleh mengambil yang bukan milik, tidak boleh berbohong, dan harus menyerahkan sesuatu barang kepada yang punya bila kami temukan. Karena masih anak-anak yang polos, pesan ibu itu begitu membekas. Dengan kepolosan juga, aku ajak adikku untuk memulangkan 2 botol mainan yang sudah di beli tadi. 

Sesampainya di tempat abang yang jualan itu, dengan berani aku menghampiri. Aku sampaikan bahwa abang itu telah salah menjual, seharusnya adikku dapat dua, bukan empat, terus yang dua botol lagi itu aku kembalikan. 

“adik kok baik dan jujur kali???, terimakasih ya!!” balas abang yang jualan itu. Aku tersenyum malu. Hatiku melambung tinggi, betapa senangnya masih kecil sudah dibilang baik. Lantas kami tinggalkan abang itu dengan rasa puas. 

Setelah itu kami jumpa teman yang tadi juga membeli mainan yang sama. Dia cerita beli seribu dapat empat. Teman yang lain juga menyampaikan hal yang sama. Ternyata kami yang salah. Harga mainan itu memang seribu dapat 4, satunya 250 rupiah. alamak!, dalam hati aku merasa sedikit malu. Ingin meminta dengan abang yang jualan tadi tentu sajajuga malu. aku dan adikku hanya saling pandang dan tidak memberitahukan kepada teman bahwa kami beli seribu hanya dapat 2, lantas asik bermain dengan teman-teman. Hanya saja, sampai sekarang ketika mengingat cerita ini, dalam hati selalu tergelitik malu. tapi tak mengapalah, setidaknya sudah belajar jujur, walaupun salah. Hehehe.




0 komentar:

Posting Komentar