20.05
0

 
Di sebuah siang yang terasa berat dengan urusan pekerjaan, aku duduk di sebuah lobi poli rumah sakit dengan seorang teman satu propesi. Bukan untuk berobat, tetapi menunggu dokter selesai mengobati pasiennya hari itu untuk menawarkan beberapa produk yang dimiliki oleh perusahaan tempatku bekerja. 

Kebetulan, di lobi itu disediakan 1 buah TV, yang pasti tujuannya untuk menghilangkan jenuh para pasien yang sedang menunggu. Aku dan temanku berbincang santai sambil sesekali melihat ke arah televisi itu. Siarannya adalah tentang berita pembuangan anak yang dilakukan sepasang sejoli yang tidak bertanggung jawab. Pasangan  yang terlalu asik menikmati cinta belum resmi sampai terlewat batas, sampai menghasilkan buah hati yang tidak diharapkan kehadirannya dan pasti membuat malu, shingga membuang buah hati itu. 

“Aku bang, kalo melihat kejadian pembuangan anak begitu, naik darah ku bang, emosi kali aku bang, seakan ingin sekali aku menghajar yang membuang anak itu bang!!” ucap temanku itu dengan nada tinggi dan sedikit ada getaran di suaranya. Kebetulan dia suku batak yang terkenal tipikal suaranya agak keras. 

“kenapa begitu?” tanyaku. 

“ia bang, aku yang udah nikah lebih dari tiga tahun, yang semua kawan-kawan sebayaku sudah pada menimang momongan, aku belum dapat bang, belum dikasih sama Tuhan, kadang sudah hampir habis kesabaran ini bang, ingin kali rasanya aku udah menimang buah hati itu bang. Sementara, orang-orang itu, enak saja membuang anak bang. Semacam sampah pulak anak itu dibuatnya bang. Geram kali aku bang!!!” suara temanku terlihat semakin tinggi. 

“ia ya bang, kadang bingung juga lihat kehidupan ini. Orang yang niat memiliki anak dengan pernikahan yang resmi, susah mendapatkannya, tetapi, ada yang tidak ingin punya anak tetapi sudah tidak sabar untuk mlalukan hubungan suami istri dengan cara yang tidak halal, sekali eksekusi langsung jadi. Bingung juga ya bang” responku memberi gambaran tentang fakta kebanyakan yang terjadi 

“itulah lah bang” sambut temanku itu dengan suasana hati terlihat sedih. “rasanya ingin ku bunuh orang-orang yang membuang anak dengan tidak bertanggung jawab itu bang” tambahnya dengan pandangan melayang jauh. Aku pun menganggukkan kepala dan bergerak dari tempat duduk karena dokter yang kami tunggu sudah bisa temui. 

“abang tetap harus bersyukur, udah ada pendamping hidup. Sementara aku, jodoh pun belum ketemu” candaku sambil menepuk bahunya dan berjalan menuju ruangan dokter.


0 komentar:

Posting Komentar