Di sebuah siang yang terasa berat
dengan urusan pekerjaan, aku duduk di sebuah lobi poli rumah sakit dengan
seorang teman satu propesi. Bukan untuk berobat, tetapi menunggu dokter selesai
mengobati pasiennya hari itu untuk menawarkan beberapa produk yang dimiliki
oleh perusahaan tempatku bekerja.
Kebetulan, di lobi itu disediakan
1 buah TV, yang pasti tujuannya untuk menghilangkan jenuh para pasien yang
sedang menunggu. Aku dan temanku berbincang santai sambil sesekali melihat ke
arah televisi itu. Siarannya adalah tentang berita pembuangan anak yang
dilakukan sepasang sejoli yang tidak bertanggung jawab. Pasangan yang terlalu asik menikmati cinta belum resmi
sampai terlewat batas, sampai menghasilkan buah hati yang tidak diharapkan
kehadirannya dan pasti membuat malu, shingga membuang buah hati itu.
“Aku bang, kalo melihat kejadian
pembuangan anak begitu, naik darah ku bang, emosi kali aku bang, seakan ingin
sekali aku menghajar yang membuang anak itu bang!!” ucap temanku itu dengan
nada tinggi dan sedikit ada getaran di suaranya. Kebetulan dia suku batak yang
terkenal tipikal suaranya agak keras.
“kenapa begitu?” tanyaku.
“ia bang, aku yang udah nikah
lebih dari tiga tahun, yang semua kawan-kawan sebayaku sudah pada menimang
momongan, aku belum dapat bang, belum dikasih sama Tuhan, kadang sudah hampir
habis kesabaran ini bang, ingin kali rasanya aku udah menimang buah hati itu
bang. Sementara, orang-orang itu, enak saja membuang anak bang. Semacam sampah
pulak anak itu dibuatnya bang. Geram kali aku bang!!!” suara temanku terlihat
semakin tinggi.
“ia ya bang, kadang bingung juga
lihat kehidupan ini. Orang yang niat memiliki anak dengan pernikahan yang
resmi, susah mendapatkannya, tetapi, ada yang tidak ingin punya anak tetapi
sudah tidak sabar untuk mlalukan hubungan suami istri dengan cara yang tidak
halal, sekali eksekusi langsung jadi. Bingung juga ya bang” responku memberi
gambaran tentang fakta kebanyakan yang terjadi
“itulah lah bang” sambut temanku
itu dengan suasana hati terlihat sedih. “rasanya ingin ku bunuh orang-orang
yang membuang anak dengan tidak bertanggung jawab itu bang” tambahnya dengan
pandangan melayang jauh. Aku pun menganggukkan kepala dan bergerak dari tempat
duduk karena dokter yang kami tunggu sudah bisa temui.
“abang tetap harus bersyukur,
udah ada pendamping hidup. Sementara aku, jodoh pun belum ketemu” candaku
sambil menepuk bahunya dan berjalan menuju ruangan dokter.
0 komentar:
Posting Komentar