21.14
0





“abang percaya kan kalau cinta orang tua itu begitu besar??” tanya seorang gadis manis yang duduk di depanku saat kami berdua sengaja membuat janji untuk bertemu. Hanya ingin membangun sebuah persahabatan dan silaturrahmi yang lebih panjang. 

“tentu saja, karena aku benar-benar merasakannya”  jawabku mengiyakan. “kenapa emangnya?” balasku pada gadis berkerudung merah muda itu. 

“sebab, itulah yang aku rasakan dalam hidupku” sambutnya dengan mata berkaca-kaca.
“ya, semua anak tentu merasakan cinta yang besar dari orang tuanya, toh!” responku belajar bijak
“kalau itu bener banget bang, tapi aku yakin punya cerita berbeda dari anak-anak yang lain” sambutnya dengan sedikit terukir senyum sesal dalam bibirnya. Aku bisa rasakan itu. 

“berbeda bagaimana??” pancingku menggali informasi darinya dengan melempar senyum termanisku sambil menatap bola matanya yang bening itu. Itu yang aku rasakan. Bagi yang menerima senyumku itu, tidak tau manis atau tidak. 

“aku adalah anak yang pernah sangat-sangat mengecewakan orang tua” tukasnya dengan senyum manis yang biasa aku lihat menghilang.

“apa memangnya yang adik lakukan sampai merasa sangat mengecekan orangtua itu?” tanyaku dengan panggilan adik untuk memanjakannya. 

Gadis berkerudung merah muda itu tidak langsung menjawab. Ia menyeruput segelas jus pokat yang dipesannya di cafe tempat kami bertemu terlebih dahulu. Sepertinya ia terlihat mengumpulkan energi untuk bercerita. 

“aku pernah hilang kesabaran karena laki-laki yang hadir untuk meminangku hanya memberikan janji palsu. Aku tidak tahu entah kenapa aku merasa jodohku begitu sulit. Karena kekecawaanku itu, suatu hari aku bertemu dengan seorang laki-laki di sebuah bus dalam perjalanan ke suatu tempat. Entah bagaimana, dari komunikasi kami setelah perkenalan itu, aku merasa tertarik dengan laki-laki itu.” Gadis itu diam sejenak.

“lantas apa salahnya dengan laki-laki itu, dia suka juga kan sama adik?” tanyaku tidak sabar. 

“ia suka, tapi orang tua ku tidak menyetujuinya karena laki-laki itu sudah bersetatus”

“maksudnya?? aku pura-pura tidak paham. 

“laki-laki itu sudah duda anak 1, bang” terlhat wajah manisnya penuh kekecawaan. “karena itu orangtuaku tidak setuju. Tetapi, aku berontak. Aku merasa cocok dengan laki-laki itu, sehingga aku menentang ketidak setujuan mereka. Sepertinya hatiku sudah benar-benar buta saat itu. Tidak aku perdulikan lagi nasehat baik mereka. Apa yang mereka utarakan, semuanya menurutku salah. Dan aku lebih memilih laki-laki berstatus itu.  Sampai lebih beberapa bulan aku tidak berkomunikasi dengan mereka. adikku, sering mengabarkan bahwa ibuku hampir setiap malam menangis karena perubahan sikapku, yang awalnya dianggab keluarga sebagai anak baik, tiba-tiba menjadi penentang hanya karena laki-laki yang menurut mereka tidak cocok untuk mendampingi hidupku. Betapa durhakanya aku, bang” tak sadar, dua anak suang mengalir lewat dua bola matanya yang bening. Wajahnya berubah menjadi merah. Tubuhnya sedikit bergetar dan suaranya menjadi berat. Dinginnya segelas jus pokat tak mampu mengalahkan rasa bersalahnya. Aku ikut terharu. Kupandangi wajahnya yang memerah, dan ia tidak berani menatapku. 

“terus bagaimana ceritanya bisa kembali dengan orang tua untuk meninggalkan laki-laki itu?” tanyaku untuk tahu ending ceritanya kerana aku juga sudah tau dia sudah berpisah dengan laki-laki yang diceritakan itu. 

“Yang pasti karena kebaikan Allah dalam memberiku petunjuk dalam memilih jalan yang benar, bang. Teman-teman kerjaku sesama anak rantau, banyak yang mengingatkanku untuk kembali kepada orang tua. Karena, bagaimana pun, hidup ini tidak akan bahagia tanpa ridho dari kedua orang tua. Begitulah nasehat teman-temanku yang menyadarkanku dari keindahan yang salah. Saat itu aku menangis sejadi-jadinya. Menyesal se sesal-sesalnya. Dan dengan keberanian diri, aku pulang kerumah dengan penuh rasa bersalah dan menangis dalam dekapan orang tua. Disitulah kutemukan cinta mereka begitu besar. Dengan kebesaran jiwanya, Ibu dan Ayah menerimaku kembali dengan tidak membahas kesalahanku sedikitpun. ‘sudah lah, yang penting anak kami yang dulu baik itu sudah kembali’, begitulah mereka menerimaku yang menyegarkanku untuk berniat tidak akan mengecewakan mereka lagi” tandas gadis itu dengan pandangan menerawang jauh. Kuperhatikan wajahnya yang tadi kecewa, ada rasa syukur di dalamnya. Syukur ia sudah kembali dari jalan hidup yang salah. 

“Syukurlah” ujarku memberi dukungan. Dengan pikiran yang terusik untuk mengingat kedua orang tuaku yang jauh. Dengan mengingat bahwa aku sebagai anak, juga pasti pernah mengecewakan kedua orang tua. Degan cerita yang berbeda tentunya. Bahkan sampai sekarang, aku tetap belum mampu membahagiakan mereka.


0 komentar:

Posting Komentar