“abang percaya kan kalau cinta orang tua
itu begitu besar??” tanya seorang gadis manis yang duduk di depanku saat kami
berdua sengaja membuat janji untuk bertemu. Hanya ingin membangun sebuah
persahabatan dan silaturrahmi yang lebih panjang.
“tentu saja, karena aku benar-benar
merasakannya” jawabku mengiyakan.
“kenapa emangnya?” balasku pada gadis berkerudung merah muda itu.
“sebab, itulah yang aku rasakan dalam
hidupku” sambutnya dengan mata berkaca-kaca.
“ya, semua anak tentu merasakan cinta yang
besar dari orang tuanya, toh!”
responku belajar bijak
“kalau itu bener banget bang, tapi aku
yakin punya cerita berbeda dari anak-anak yang lain” sambutnya dengan sedikit
terukir senyum sesal dalam bibirnya. Aku bisa rasakan itu.
“berbeda bagaimana??” pancingku menggali
informasi darinya dengan melempar senyum termanisku sambil menatap bola matanya
yang bening itu. Itu yang aku rasakan. Bagi yang menerima senyumku itu, tidak
tau manis atau tidak.
“aku adalah anak yang pernah sangat-sangat
mengecewakan orang tua” tukasnya dengan senyum manis yang biasa aku lihat
menghilang.
“apa memangnya yang adik lakukan sampai
merasa sangat mengecekan orangtua itu?” tanyaku dengan panggilan adik untuk
memanjakannya.
Gadis berkerudung merah muda itu tidak
langsung menjawab. Ia menyeruput segelas jus pokat yang dipesannya di cafe
tempat kami bertemu terlebih dahulu. Sepertinya ia terlihat mengumpulkan energi
untuk bercerita.
“aku pernah hilang kesabaran karena laki-laki
yang hadir untuk meminangku hanya memberikan janji palsu. Aku tidak tahu entah
kenapa aku merasa jodohku begitu sulit. Karena kekecawaanku itu, suatu hari aku
bertemu dengan seorang laki-laki di sebuah bus dalam perjalanan ke suatu
tempat. Entah bagaimana, dari komunikasi kami setelah perkenalan itu, aku
merasa tertarik dengan laki-laki itu.” Gadis itu diam sejenak.
“lantas apa salahnya dengan laki-laki
itu, dia suka juga kan sama adik?” tanyaku tidak sabar.
“ia suka, tapi orang tua ku tidak
menyetujuinya karena laki-laki itu sudah bersetatus”
“maksudnya?? aku pura-pura tidak paham.
“laki-laki itu sudah duda anak 1, bang”
terlhat wajah manisnya penuh kekecawaan. “karena itu orangtuaku tidak setuju. Tetapi,
aku berontak. Aku merasa cocok dengan laki-laki itu, sehingga aku menentang
ketidak setujuan mereka. Sepertinya hatiku sudah benar-benar buta saat itu. Tidak
aku perdulikan lagi nasehat baik mereka. Apa yang mereka utarakan, semuanya
menurutku salah. Dan aku lebih memilih laki-laki berstatus itu. Sampai lebih beberapa bulan aku tidak
berkomunikasi dengan mereka. adikku, sering mengabarkan bahwa ibuku hampir
setiap malam menangis karena perubahan sikapku, yang awalnya dianggab keluarga
sebagai anak baik, tiba-tiba menjadi penentang hanya karena laki-laki yang
menurut mereka tidak cocok untuk mendampingi hidupku. Betapa durhakanya aku,
bang” tak sadar, dua anak suang mengalir lewat dua bola matanya yang bening. Wajahnya
berubah menjadi merah. Tubuhnya sedikit bergetar dan suaranya menjadi berat. Dinginnya
segelas jus pokat tak mampu mengalahkan rasa bersalahnya. Aku ikut terharu. Kupandangi
wajahnya yang memerah, dan ia tidak berani menatapku.
“terus bagaimana ceritanya bisa kembali
dengan orang tua untuk meninggalkan laki-laki itu?” tanyaku untuk tahu ending
ceritanya kerana aku juga sudah tau dia sudah berpisah dengan laki-laki yang
diceritakan itu.
“Yang pasti karena kebaikan Allah dalam
memberiku petunjuk dalam memilih jalan yang benar, bang. Teman-teman kerjaku
sesama anak rantau, banyak yang mengingatkanku untuk kembali kepada orang tua. Karena,
bagaimana pun, hidup ini tidak akan bahagia tanpa ridho dari kedua orang tua. Begitulah
nasehat teman-temanku yang menyadarkanku dari keindahan yang salah. Saat itu
aku menangis sejadi-jadinya. Menyesal se sesal-sesalnya. Dan dengan keberanian
diri, aku pulang kerumah dengan penuh rasa bersalah dan menangis dalam dekapan
orang tua. Disitulah kutemukan cinta mereka begitu besar. Dengan kebesaran
jiwanya, Ibu dan Ayah menerimaku kembali dengan tidak membahas kesalahanku
sedikitpun. ‘sudah lah, yang penting anak
kami yang dulu baik itu sudah kembali’, begitulah mereka menerimaku yang
menyegarkanku untuk berniat tidak akan mengecewakan mereka lagi” tandas gadis
itu dengan pandangan menerawang jauh. Kuperhatikan wajahnya yang tadi kecewa,
ada rasa syukur di dalamnya. Syukur ia sudah kembali dari jalan hidup yang
salah.
“Syukurlah” ujarku memberi dukungan. Dengan
pikiran yang terusik untuk mengingat kedua orang tuaku yang jauh. Dengan mengingat
bahwa aku sebagai anak, juga pasti pernah mengecewakan kedua orang tua. Degan cerita
yang berbeda tentunya. Bahkan sampai sekarang, aku tetap belum mampu
membahagiakan mereka.

0 komentar:
Posting Komentar