“kebanyakan laki-laki itu bangsat,
ya!!” ujar seorang teman perempuan yang sedang melihat sebuah berita televisi
di sebuah rumah makan yang menjadi teman makan siangku hari itu. Kebetulan
berita yang ditayangkan televisi di rumah makan itu adalah tentang seorang
laki-laki yang menghamili kekasihnya tetapi tidak bertanggung jawab sampai
harus berurusan dengan pak polisi.
“what?? Kenapa begitu??” responku
pada gadis itu yang tidak lain adalah adik kelas waktu kuliah dulu, dan kami
bertemu dalam sebuah acara yang dapat kami lanjutkan untuk makan siang bersama.
Tentu saja aku terkejut mendengar pernyataannya. Karena aku juga laki-laki, dan
aku merasa tidak bangsat, hanya sedikit nakal.
“ya, seperti berita yang sedang
ditayangkan di teleivis itu!” ujarnya dengan mata tertuju pada televisi, bukan
padaku. Aku ikut terpandu untuk menyaksikan berita di televisi itu.
“itu kan sebagian, tidak semua
laki-laki” sambutku memberikan pembelaan terhadap nama baik laki-laki yang sudah
terpandang buruk dalam pandangannya.
“ya tapi tetap saja, satu orang
yang berbuat, menghadirkan banyak pandangan negatif dari wanita untuk para
laki-laki yang tidak bersalah, bang” bela nya tak mau kalah. Pernytaannya bila
diperibahasakan mirip dengan ucapan ‘satu orang makan nangka, semua kena
getah’. Atau juga ucapan ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’.
“kenapa kamu juga terpengaruh
dengan perasaan negatif itu?” tanyaku ingin tau.
“karena aku kasihan lihat
temanku, bang” wajahnya berubah sedih
“maksudnya?” aku bingung.
Ucapannya terakhir melahirkan tanya dalam benakku yang tak bisa aku bendung.
“dulu, waktu kuliah, aku punya
seorang teman” matanya menerawang. Pasti pikirannya sedang terbang jauh
mengingat-ingat cerita dengan teman yang disebutkannya itu.
“terus?” tanyaku seperti tidak
sabar.
Ia menarik nafas yang dalam lalu
melanjutkan, “temanku itu sangat lugu, polos, dan apa adanya tampil sebagai
gadis belia. Berapa minggu kuliah, entah bagaimana ceritanya, ia bisa
berkenalan dengan seorang senior kampus yang terlihat gagah, berwibawa, cerdas,
pandai, dan aktif dalam kegiatan kampus. Perkenalan mereka berjalan dengan
sangat baik sampai menimbulkan benih cinta. Lalu mereka sepakat membuat sebuah
cerita, yang secara umum dikenal dengan ‘pacaran’. Awalnya temanku itu sangat
bahagia. Betapa senangnya ia memiliki orang istimewa yang memang gagah adanya. Betapa
bahagianya ia memiliki calon imam yang dipandang berwibawa itu. Saat dikenalkan
ke orang tua pun begitu senang menerima terlihat orangtuanya. Ia sudah sagat
percaya dan yakin dengan cinta pria yang dikampus namanya dikenal banyak
mahasiswa karena keaktifaannya. Karena sudah begitu percayanya, motornya
sehari-hari digunakan oleh sang pria, pakaian kotor dicucikan seperti kewajiban
istri atas suami, yang pasti itu karena ingin menunjukkan rasa cinta.” Ia
berhenti sejenak menarik nafas yang dalam lagi. Aku berupaya mendengarkan
ceritanya dengan seksama berusaha mengamalkan sebuah teori, bahwa laki-laki
yang baik itu yang mampu menjadi pendengan cerita perempuan disampingnya. Sekali
lagi, kata teori, entah dengan prakteknya.
“sampai pada suatu ketika,” ia melanjutkan dengan fisik terlihat tegang,
aku pun terbawa suasananya. “laki-laki itu meminta sesuatu yang dilarang agama.
Laki-laki itu menginginkan surga dunia yang belum waktunya karena belum halal.
Laki-laki itu meminta mahkota bernama kesucian
temanku itu untuk dinikmatinya saat ijab belum terucap. Sebagi gadis
yang tau permintaan itu dilarang oleh agama yang diyakininya, dan juga bisa
menghancurkan hidupnya jika memang laki-laki itu bukan jodohnya, maka temanku
itu menolak. ia menentang keras untuk tidak mau memberikan mahkotanya. Tapi,
apa daya, laki-laki itu sudah gelap mata. Mungkin nuraninya sudah tertutup
rapat oleh godaan setan, nafsunya sudah di ujung ubun-ubun dan tak tetahan.
Lalu, dengan ancaman, pukulan, gentakan, dan prilaku sadis lainnya, temanku itu
takut dan kalah. Karakternya sebagai wanita yang identik dengan sikap lembut
harus menjadi bukti keperkasaan laki-laki untuk berbuat jahat. Laki-laki
brengsek itu berhasil melampiaskan nafsu bejadnya dengan paksaan yang menjadikan temanku itu
terdaftar dalam korban perkosaan yang di dunia ini memang selalu banyak
terjadi.” Suara temanku itu terlihat tinggi. Aku tau bahwa ia menyimpan amarah
dan kekesalan yang besar pada pria brengsek itu. Karena aku juga merasakannya.
Tapi, untuk menemukan alur cerita sampai selesai, kusembunyikan emosiku. Aku
tetap duduk sambil melipat kedua tanganku di atas meja untuk menunjukkan bahwa
aku sangat antusias mendengarkan
ceritanya sambil sekai-kali menyuruput jus mangga yang aku pesan
tadi.
“yang lebih jahatnya lagi,”
temanku itu masih melanjutkan ceritanya setelah berhenti untuk meneguk air
sejenak. “permintaan kenikmatan tidak halal itu, tidak hanya sekali atau dua
kali. Tapi sudah beberapa kali. Dengan cara yang sama, paksaan dan kekerasaan.
Saat setiap kali ada peluang di rumah kosnya sedang sepi, Kalau temanku itu
tidak mau melayaninya, pasti akan mendapatkan pukulan fisik. Entah berapa kali
henpon temanku itu pecah karena dilempar laki-laki busuk itu. Entah berapa kali
pipi temanku lebam karena hantaman. Temanku itu benar-benar takut untuk
menolak. Ia sudah terperangkap dalam sebuah kondisi yang membuatnya hancur.
Ingin ditinggalkan laki-laki itu, ia takut karena laki-laki itu juga yang sudah
merenggut mahkota kesuciannya. Jika tidak dtinggalkan, ia mendapatkan kekerasan
yang berkelanjutan. Dilema seperti buah simalakama. Sampai pada suatu hari,
Allah menunjukkan jalan yang membuka mata hati temanku itu untuk mengambil
sikap menentukan jalan. Temanku itu
bertemu dengan seroang perempuan yang teryata juga kesasih lelaku busuk itu.
Bahkan sudah sangat lama mereka berpacaran. Kalau temanku itu baru sekita 7
bulan, tetapi dengan peremuan yang ditemui nya itu sudah bertahun-tahun. Dan
yang membuatnya sangat sakit, melalui pernyataan permpuan itu, mereka juga
sudah sering melakukan hubungan suami istri, yang katanya atas dasar suka sama
suka. Bahkan pernah perempuan itu sampai hamil dan menggugurkan kandungannya.
Tentu saja kabar itu seperti hantaman sunami dalam batin temanku itu. Temanku
itu sangat-sangat dan sangat terpukul. Karena kata perempuan yang mengaku sudah
berpacaran sampai tahunan itu sangat mencintai pria busuk itu dan tak ingin berpisah
apapun kondisinya, dan bahkan sudah pernah hamil, maka temanku ini rela
melepaskan pria busuk itu. Walaupun tidak siap, tapi dia yakin itu keputusan
terbaik. Karena temanku sadar bahwa ia selama ini hanya menjadi selingkuhan
dari pria jahanam itu. Temanku itu tentu saja sangat berduka dengan nasipnya.
Ia menyesal dan sadar bahwa ia telah melewati jalan yang salah. Dan dengan
penuh kesadaran ia selalu mohon ampun dalam doa-doanya kepada sang Kholik
setiap aktivitas ibadah yang ia lakukan dan meminta jalan hidup yang lebih
baik. Walaupun, karena kejadianya tragis itu, ia sangat sulit menemukan
jodohnya, ia tetap sabar. Banyak laki-laki lain yang hadir yang tentu lebih
baik dari pria busuk itu, tetapi karena kondisinya yang sudah tak memiliki mahkota lagi, banyak membuat
laki-laki yang mendekat itu mundur. Sampai ada seorang laki-laki yang
dipandangnya sangat baik dan pasti bisa menjadi sumber kebahagiaannya bila
menjalin keluarga dengan laki-laki baik yang hadir itu, tetapi karena
kondisinya yang sudah tidak memiliki mahkota itu, membuat laki-laki idamannya
itu urung memberi keputusan yang membahagiakan. Padahal kedua orang tuanya
sudah berharap degan laki-laki yang sering diceritakannya itu walaupun belum
pernah dipertemukan. Tetapi, temanku itu tetap yakin melalui doa-doanya kepada
sang Kholik, akan ada laki-laki baik dengan kebesaran jiwa menerimanya tanpa
mahkota lagi yang hadir untuk menjadi wakil Tuhan memberinya kebahagiaan hidup.
Temanku tu itu tetap yakin karena Allah menurutnya selalu tau jalan terbaik
untuk hambanya.” Tutur temanku itu sambil terhilat bintik kecil yang bening di
kedua matanya, sebuah tangis tentang nasip sahabatnya yang penuh cerita sakit.
“kenapa tidak dilaporkan ke
polisi saja laki-laki busuk itu? Biar jadi di pelajaran untuknya!!” tanyaku
dengan perasaan marah dan benci pada laki-laki itu.
“katanya, ia ingin sekali
melaoprkan tindak kejahatan laki-laki busuk dan bejad itu. Tapi, temanku itu
ingat, dia punya keluarga yang sangat menyanginya di kampung. Tentu saja itu
akan membuat malu keluarga kalau sampai cerita menyakitkan itu di publikasikan
kepada umum. Ia tidak mau membuat orang tuanya semakin berduka. Karena
menurutnya, perjuangan orang tuanya untuk menguliahkannya saja sudah sangat
hebat, dan ia tidak ingin menghadirkan tangis duka dalam perjuangan itu.
Biarlah dia sendiri yang menyimpan perasaan menyakitkan itu. Karena dia tau
bahwa Allah sebagai Tuhan yang diyakininya akan memberi langkah terbaik. Dan tentang laki-laki busuk itu, ia
juga serahkan kepada Allah yang tahu untuk membalas apa atas perbuatan itu.
Itulah pilihan yang diambil temanku dengan kebesaran jiwanya.” Sambung adik kelasku dulu yang menjadi
teman makan siangku hari itu.
Sebagai laki-laki yang tidak
ingin menyakiti peremuan, seperti aku berusaha untuk tidak menyakiti ibuku,
tentu saja aku emosi mendengar cerita ini. Darahku menggelegak, emosiku
memuncak, perasaanku bergejolak, batinku melabrak, fikiranku terdongkrak untuk
mengumpat laki-laki busuk itu. Ingin aku menghajarnya, memukul wajahnya,
menghantam hatinya, memotong kemalauannya dan bahkan ingin aku membunuhnya kalau dia ada di sampingku saat ini. Sambil berteriak, "Laki-laki
busuk, dimana nuranimu??? Kenapa kau tega merusak perempuan suci dan lugu itu
Kalau hanya untuk pelampias nafsu, padahal kau sudah punya pacar yang sampai
kau buat hamil itu???”.
Aku benar-benar ingin menghajarnya. Ia merusak citra laki-laki baik yang akan dipandang buruk oleh peremupan yang sudah terluka. Apakah dia tidak memikirikan bahwa dia juga punya seroang ibu yang seroang perempuan? Padahal, ia dilahirkan juga dari rahim peremuan kenapa dia tega menyakiti perempuan?.
Aku benar-benar ingin menghajarnya. Ia merusak citra laki-laki baik yang akan dipandang buruk oleh peremupan yang sudah terluka. Apakah dia tidak memikirikan bahwa dia juga punya seroang ibu yang seroang perempuan? Padahal, ia dilahirkan juga dari rahim peremuan kenapa dia tega menyakiti perempuan?.
Itulah gambaran betapa emosinya
aku mendengar cerita itu. Karena aku termasuk laki-laki lemah yang belum bisa
menerima peremuan yang sudah kehilangan mahkota kesucian untuk dijadikan
pendamping hidup. Aku benar-benar emosi. Sampai aku dan adik kelasku itu
meninggalkan rumah makan itu, aku masih menyimpan amarah. Bahkan sampai tilisan
ini aku buat, emosiku belum juga hilang pada laki-laki busuk itu.
‘diambil dari cerita fakta
tentang seorang gadis yang mengalami cerita hidup penuh kelu dengan berbagai
modifikasi alurnya’

0 komentar:
Posting Komentar