19.29
0



“kebanyakan laki-laki itu bangsat, ya!!” ujar seorang teman perempuan yang sedang melihat sebuah berita televisi di sebuah rumah makan yang menjadi teman makan siangku hari itu. Kebetulan berita yang ditayangkan televisi di rumah makan itu adalah tentang seorang laki-laki yang menghamili kekasihnya tetapi tidak bertanggung jawab sampai harus berurusan dengan pak polisi. 

“what?? Kenapa begitu??” responku pada gadis itu yang tidak lain adalah adik kelas waktu kuliah dulu, dan kami bertemu dalam sebuah acara yang dapat kami lanjutkan untuk makan siang bersama. Tentu saja aku terkejut mendengar pernyataannya. Karena aku juga laki-laki, dan aku merasa tidak bangsat, hanya sedikit nakal. 

“ya, seperti berita yang sedang ditayangkan di teleivis itu!” ujarnya dengan mata tertuju pada televisi, bukan padaku. Aku ikut terpandu untuk menyaksikan berita di televisi itu. 

“itu kan sebagian, tidak semua laki-laki” sambutku memberikan pembelaan terhadap nama baik laki-laki yang sudah terpandang buruk dalam pandangannya. 

“ya tapi tetap saja, satu orang yang berbuat, menghadirkan banyak pandangan negatif dari wanita untuk para laki-laki yang tidak bersalah, bang” bela nya tak mau kalah. Pernytaannya bila diperibahasakan mirip dengan ucapan ‘satu orang makan nangka, semua kena getah’. Atau juga ucapan ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’. 

“kenapa kamu juga terpengaruh dengan perasaan negatif itu?” tanyaku ingin tau. 

“karena aku kasihan lihat temanku, bang” wajahnya berubah sedih

“maksudnya?” aku bingung. Ucapannya terakhir melahirkan tanya dalam benakku  yang tak bisa aku bendung. 

“dulu, waktu kuliah, aku punya seorang teman” matanya menerawang. Pasti pikirannya sedang terbang jauh mengingat-ingat cerita dengan teman yang disebutkannya itu.
“terus?” tanyaku seperti tidak sabar. 

Ia menarik nafas yang dalam lalu melanjutkan, “temanku itu sangat lugu, polos, dan apa adanya tampil sebagai gadis belia. Berapa minggu kuliah, entah bagaimana ceritanya, ia bisa berkenalan dengan seorang senior kampus yang terlihat gagah, berwibawa, cerdas, pandai, dan aktif dalam kegiatan kampus. Perkenalan mereka berjalan dengan sangat baik sampai menimbulkan benih cinta. Lalu mereka sepakat membuat sebuah cerita, yang secara umum dikenal dengan ‘pacaran’. Awalnya temanku itu sangat bahagia. Betapa senangnya ia memiliki orang istimewa yang memang gagah adanya. Betapa bahagianya ia memiliki calon imam yang dipandang berwibawa itu. Saat dikenalkan ke orang tua pun begitu senang menerima terlihat orangtuanya. Ia sudah sagat percaya dan yakin dengan cinta pria yang dikampus namanya dikenal banyak mahasiswa karena keaktifaannya. Karena sudah begitu percayanya, motornya sehari-hari digunakan oleh sang pria, pakaian kotor dicucikan seperti kewajiban istri atas suami, yang pasti itu karena ingin menunjukkan rasa cinta.” Ia berhenti sejenak menarik nafas yang dalam lagi. Aku berupaya mendengarkan ceritanya dengan seksama berusaha mengamalkan sebuah teori, bahwa laki-laki yang baik itu yang mampu menjadi pendengan cerita perempuan disampingnya. Sekali lagi, kata teori, entah dengan prakteknya. 

“sampai pada suatu ketika,”   ia melanjutkan dengan fisik terlihat tegang, aku pun terbawa suasananya. “laki-laki itu meminta sesuatu yang dilarang agama. Laki-laki itu menginginkan surga dunia yang belum waktunya karena belum halal. Laki-laki itu meminta mahkota bernama kesucian  temanku itu untuk dinikmatinya saat ijab belum terucap. Sebagi gadis yang tau permintaan itu dilarang oleh agama yang diyakininya, dan juga bisa menghancurkan hidupnya jika memang laki-laki itu bukan jodohnya, maka temanku itu menolak. ia menentang keras untuk tidak mau memberikan mahkotanya. Tapi, apa daya, laki-laki itu sudah gelap mata. Mungkin nuraninya sudah tertutup rapat oleh godaan setan, nafsunya sudah di ujung ubun-ubun dan tak tetahan. Lalu, dengan ancaman, pukulan, gentakan, dan prilaku sadis lainnya, temanku itu takut dan kalah. Karakternya sebagai wanita yang identik dengan sikap lembut harus menjadi bukti keperkasaan laki-laki untuk berbuat jahat. Laki-laki brengsek itu berhasil melampiaskan nafsu bejadnya  dengan paksaan yang menjadikan temanku itu terdaftar dalam korban perkosaan yang di dunia ini memang selalu banyak terjadi.” Suara temanku itu terlihat tinggi. Aku tau bahwa ia menyimpan amarah dan kekesalan yang besar pada pria brengsek itu. Karena aku juga merasakannya. Tapi, untuk menemukan alur cerita sampai selesai, kusembunyikan emosiku. Aku tetap duduk sambil melipat kedua tanganku di atas meja untuk menunjukkan bahwa aku sangat antusias mendengarkan  ceritanya sambil sekai-kali menyuruput jus mangga yang aku pesan tadi.   

“yang lebih jahatnya lagi,” temanku itu masih melanjutkan ceritanya setelah berhenti untuk meneguk air sejenak. “permintaan kenikmatan tidak halal itu, tidak hanya sekali atau dua kali. Tapi sudah beberapa kali. Dengan cara yang sama, paksaan dan kekerasaan. Saat setiap kali ada peluang di rumah kosnya sedang sepi, Kalau temanku itu tidak mau melayaninya, pasti akan mendapatkan pukulan fisik. Entah berapa kali henpon temanku itu pecah karena dilempar laki-laki busuk itu. Entah berapa kali pipi temanku lebam karena hantaman. Temanku itu benar-benar takut untuk menolak. Ia sudah terperangkap dalam sebuah kondisi yang membuatnya hancur. Ingin ditinggalkan laki-laki itu, ia takut karena laki-laki itu juga yang sudah merenggut mahkota kesuciannya. Jika tidak dtinggalkan, ia mendapatkan kekerasan yang berkelanjutan. Dilema seperti buah simalakama. Sampai pada suatu hari, Allah menunjukkan jalan yang membuka mata hati temanku itu untuk mengambil sikap menentukan jalan.  Temanku itu bertemu dengan seroang perempuan yang teryata juga kesasih lelaku busuk itu. Bahkan sudah sangat lama mereka berpacaran. Kalau temanku itu baru sekita 7 bulan, tetapi dengan peremuan yang ditemui nya itu sudah bertahun-tahun. Dan yang membuatnya sangat sakit, melalui pernyataan permpuan itu, mereka juga sudah sering melakukan hubungan suami istri, yang katanya atas dasar suka sama suka. Bahkan pernah perempuan itu sampai hamil dan menggugurkan kandungannya. Tentu saja kabar itu seperti hantaman sunami dalam batin temanku itu. Temanku itu sangat-sangat dan sangat terpukul. Karena kata perempuan yang mengaku sudah berpacaran sampai tahunan itu sangat mencintai pria busuk itu dan tak ingin berpisah apapun kondisinya, dan bahkan sudah pernah hamil, maka temanku ini rela melepaskan pria busuk itu. Walaupun tidak siap, tapi dia yakin itu keputusan terbaik. Karena temanku sadar bahwa ia selama ini hanya menjadi selingkuhan dari pria jahanam itu. Temanku itu tentu saja sangat berduka dengan nasipnya. Ia menyesal dan sadar bahwa ia telah melewati jalan yang salah. Dan dengan penuh kesadaran ia selalu mohon ampun dalam doa-doanya kepada sang Kholik setiap aktivitas ibadah yang ia lakukan dan meminta jalan hidup yang lebih baik. Walaupun, karena kejadianya tragis itu, ia sangat sulit menemukan jodohnya, ia tetap sabar. Banyak laki-laki lain yang hadir yang tentu lebih baik dari pria busuk itu, tetapi karena kondisinya yang sudah  tak memiliki mahkota lagi, banyak membuat laki-laki yang mendekat itu mundur. Sampai ada seorang laki-laki yang dipandangnya sangat baik dan pasti bisa menjadi sumber kebahagiaannya bila menjalin keluarga dengan laki-laki baik yang hadir itu, tetapi karena kondisinya yang sudah tidak memiliki mahkota itu, membuat laki-laki idamannya itu urung memberi keputusan yang membahagiakan. Padahal kedua orang tuanya sudah berharap degan laki-laki yang sering diceritakannya itu walaupun belum pernah dipertemukan. Tetapi, temanku itu tetap yakin melalui doa-doanya kepada sang Kholik, akan ada laki-laki baik dengan kebesaran jiwa menerimanya tanpa mahkota lagi yang hadir untuk menjadi wakil Tuhan memberinya kebahagiaan hidup. Temanku tu itu tetap yakin karena Allah menurutnya selalu tau jalan terbaik untuk hambanya.” Tutur temanku itu sambil terhilat bintik kecil yang bening di kedua matanya, sebuah tangis tentang nasip sahabatnya yang penuh cerita sakit.

“kenapa tidak dilaporkan ke polisi saja laki-laki busuk itu? Biar jadi di pelajaran untuknya!!” tanyaku dengan perasaan marah dan benci pada laki-laki itu.  

“katanya, ia ingin sekali melaoprkan tindak kejahatan laki-laki busuk dan bejad itu. Tapi, temanku itu ingat, dia punya keluarga yang sangat menyanginya di kampung. Tentu saja itu akan membuat malu keluarga kalau sampai cerita menyakitkan itu di publikasikan kepada umum. Ia tidak mau membuat orang tuanya semakin berduka. Karena menurutnya, perjuangan orang tuanya untuk menguliahkannya saja sudah sangat hebat, dan ia tidak ingin menghadirkan tangis duka dalam perjuangan itu. Biarlah dia sendiri yang menyimpan perasaan menyakitkan itu. Karena dia tau bahwa Allah sebagai Tuhan yang diyakininya akan memberi langkah  terbaik. Dan tentang laki-laki busuk itu, ia juga serahkan kepada Allah yang tahu untuk membalas apa atas perbuatan itu. Itulah pilihan yang diambil temanku dengan kebesaran jiwanya.”    Sambung adik kelasku dulu yang menjadi teman makan siangku hari itu. 

Sebagai laki-laki yang tidak ingin menyakiti peremuan, seperti aku berusaha untuk tidak menyakiti ibuku, tentu saja aku emosi mendengar cerita ini. Darahku menggelegak, emosiku memuncak, perasaanku bergejolak, batinku melabrak, fikiranku terdongkrak untuk mengumpat laki-laki busuk itu. Ingin aku menghajarnya, memukul wajahnya, menghantam hatinya, memotong kemalauannya dan bahkan ingin aku membunuhnya kalau dia ada di sampingku saat ini. Sambil berteriak, "Laki-laki busuk, dimana nuranimu??? Kenapa kau tega merusak perempuan suci dan lugu itu Kalau hanya untuk pelampias nafsu, padahal kau sudah punya pacar yang sampai kau buat hamil itu???”.

Aku benar-benar ingin menghajarnya. Ia merusak citra laki-laki baik yang akan dipandang buruk oleh peremupan yang sudah terluka. Apakah dia tidak memikirikan bahwa dia juga punya seroang ibu yang seroang perempuan? Padahal, ia dilahirkan juga dari rahim peremuan kenapa dia tega menyakiti perempuan?.

Itulah gambaran betapa emosinya aku mendengar cerita itu. Karena aku termasuk laki-laki lemah yang belum bisa menerima peremuan yang sudah kehilangan mahkota kesucian untuk dijadikan pendamping hidup. Aku benar-benar emosi. Sampai aku dan adik kelasku itu meninggalkan rumah makan itu, aku masih menyimpan amarah. Bahkan sampai tilisan ini aku buat, emosiku belum juga hilang pada laki-laki busuk itu.



diambil dari cerita fakta tentang seorang gadis yang mengalami cerita hidup penuh kelu dengan berbagai modifikasi alurnya’

0 komentar:

Posting Komentar