21.01
0



Di sebuah desa yang masih sangat jauh dari keramaian, yang berbatasan langsung dengan hutan dan semak belukar, saya mengawali masa kecil. Tepat di depan pondok yang kami jadikan rumah berteduh dari keganasan cuaca alam, hidup tiga orang lajang, anak rantau yang bekerja sebagai penebang hutang untuk dijadikan kebun tanaman.

Dalam menyelesaikan pekerjaanya, ketiga pemuda tersebut masing-masing mendapatkan jatah 1 kaplingan lahan (sekitar 2 HA) luasnya yang harus mereka tebang. Semakin giat mereka bekerja, tentu  semakin luas hutan yang mereka tebang, maka akan semakin besar penghasilan yang akan mereka dapatkan.

Di saat kaplingan hutan sudah mereka bagi untuk dikerjakan masing-masing, dengan bercanda untuk motivasi kerja mereka pun mengadakan lomba untuk siapa yang paling cepat menyelesaikan penebangan hutan yang sudah dikaplingkan tadi. Setelah kapak terasah dengan tajam, mereka pun siap bertempur dengan kayu-kayu hutan yang besar lagi menyeramkan.

Pemuda pertama dengan semangat begitu sampai di hutan, langsung menebang pohon yang tampak di depan mata tanpa pilih memilih. Pemuda kedua pun sama, tidak ada cara khusus untuk membantai hutan yang lebat itu. Satu demi satu pohon-pohon yang pertama tampak gagah itu terlihat tak berdaya setelah kapak yang tajam perlahan menggerogoti batang bawahnya. Dengan cara ini, kedua pemuda tadi dapat menyelesaikan penebangan pohon dalam 1 kaplingan selama satu minggu.

Sementara pemuda ketiga, tidak sampai satu minggu menyelesaikan penebangan pohon yang telah menjadi tugasnya. Ia hanya membutuhkan waktu 3 hari untuk menyelesaikan penebangan hutan satu kapling itu. Dengan ini, kedua temannya tentu saja heran, kenapa ia bisa secepat itu. Sementara mereka hanya mampu menebang semua pohon selama satu minggu. Kapaknya sama tajam, pohon juga tidak jauh berbeda, hampir sama besar. Dengan kenyataan ini, tentu saja menimbulkan tanya bagi ke dua pemuda tersebut.

“Teman, kami membutuhkan waktu satu minggu untuk menebang pohon di hutan itu, sementara kamu hanya 3 hari dengan peralatan yang sama, bagaimana caranya?” Tanya kedua pemuda itu dengan penasaran.

“hmmm, kerja itu harus punya strategi!” ucapnya sambil mengaduk gula dalam segelas air bercampur teh yang baru dibuatnya.

“maksudnya bagaimana? Ini hanya soal menebang kayu, bukan masalah pemenangan politik, harus pakai strategi segala.” Tambah kedua temannya itu semakin penasaran.

“ya strategi itu penting” pemuda ketiga itu tersenyum. “saat masuk ke hutan, aku tidak langsung menebang pohon yang terlihat. Tetapi aku mencari pohon yang paling besar, dan melihat arah condongnya, setelah jumpa, lantas aku potong sebagian batang pohon-pohon yang lebih kecil yang berada di sekitarnya yang ketika pohon besar tadi tumbang akan menimpahi pohon-pohon kecil itu, dengan begitu, pohon-pohon kecil yang sudah aku potong separuh dari batangnya akan tertimpa pohon besar dan tentu saja akan terikut menjadi tumbang. Karena itulah aku cepat dalam menebang pohon di hutan itu.” Ucap pemuda ketiga itu sambil menyeruput teh yang tadi dibuatnya.

Dua pemuda pertama tadi pun mengangguk-angguk, seraya baru tersadar bahwa ternyata untuk hal sekecil itu pun ada srtateginya agar lebih cepat selesai dalam menjalankan tugas.


Diambil dari sebuah obrolan ringan di lingkungan hidup masa kecil dengan cerita yang sedikit dimodivikasi.



0 komentar:

Posting Komentar