20.28
0



Namanya Keizi. Umurnya baru sekitar 21 lebih sedikit lah. Tetapi, ia sudah sudah menjadi gadis yang cukup mapan diusianya. Seorang gadis yang tidak lagi merepotkan kedua orang tuanya untuk kebutuhan make up, malahan ia bisa membantu memberi sekedar uang jajan untuk adik-adinya yang masih sekolah. 

Aku mengenalnya di sela-sela kebersamaan kerja di dunia Farmasi. Menunggu dokter sampai selesai semua pasiennya konsultasi yang ada di poli. Ia selalu memberi senyum ramah setiap kali bertemu. Melalui senyum ramahnya itu pula lah membuatku tak sungkan untuk bertegur sapa saat bertemu dan dilanjutkan dengan berbagai perbincangan ringan yang penuh humor. Ia begitu pandai mengakrabkan diri dengan orang lain. Ditambah pula dengan paras wajah yang menurutku dapat dikategorikan cantik, membuat banyak orang-khusunya laki-laki untuk berbincang-bincang dengannya setiap bertemu. Dan tidak alpa pula aku. 

“Awalnya sih memang ingin kerja aja bang, ditawari pula sama teman kakak kerja seperti ini. Waktu pertama kerja sih terasa canggung, tetapi, setelah dinikmati asik juga rasanya sekarang.” Jawabnya ringan sewaktu aku melemparkan pertanyaan mengapa ia mau bekerja di bagian marketing. yang kebanyakan orang sangat menghindari pekerjaan itu dengan dalih tidak pandai berbicara dan takut menghadapi banyak orang, sehingga rela untuk menganggur tidak bekerja. Sementara gadis itu terlihat sangat menikmatinya. 

Memang aku kagum dengan keberaniannya sebagai seorang wanita muda bekerja dalam bidang yang setiap hari-harinya berhadapan dengan banyak orang.  Apalagi dari ceritanya, dia anak rantau yang tidak tinggal sama orang tuanya di kota Bertuah ini. Orang tuanya ada di provinsi sebelah yakni Sumatera Utara. Tapi bukan itu yang sangat aku kagumi. Melainkan kegigihannya dalam menjalani hidup ini untuk selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan  penting  untuk menikmani masa depan yang lebih baik. Pekerjaannya dimulai dari hari senin sampai sabtu. Biasanya sabtu hanya setengah hari. Tapi di hari senin sampai jum’at, ia sering pulang malam dalam bekerja karena harus memenuhi  target kunjugan dokter yang sudah ditetapkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sementara sore, ia mencuri-curi waktu untuk les komputer guna menambah keahliannya. sedangkan sabtu siang dan minggu, ia kuliah mengambil jalur perkuliahan yang non reguler di sebuah sekolah tinggi swasta. 

“Ga ada waktu libur, Bang!” ujarnya waktu bercerita itu dengan mengerutkan dahi. Tapi ia terlihat tetap semangat. Sambil sekali-kali mengelus rambutnya yang lurus, dan tentu saja terlihat semakin cantik. 

“Hebat!!” Pujiku dengan melempar senyum. ia membalasnya dengan  tetap merendah diri. “biasa aja pun Bang”, ucapnya sambil tersenyum. 

Kegigihannya ini membuatku malu. Ia, gadis itu, yang seorang perempuan, dan masih sangat muda begitu bersemangat menikmati hidup dengan kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sangat cepat menghadirkan titik jenuh. Karena, biasanya , gadis seusianya sedang senang-senangnya bermanja-manjaan menikmati masa muda dengan bermacam cara, tapi tidak dengan gadis itu. Ia memilih melakukan yang bisa menopang masa depannya menjadi lebih baik nantinya. Walau harus dengan aktivitas-aktivitas yang begitu padat. Aku malu, karena waktu kuliah dulu, aku sebenarnya punya semangat seperti itu, namun kini setelah memasuki dunia kerja, aku mudah merasa jenuh. Aku merasa sudah mendapatkan seusatu yang memang dibutuhkan mendesak, sehingga semangatku untuk mendapatkan yang lebih lagi mulai pudar. Aku sering menyia-nyiakan waktu hanya untuk bersantai setelah pulang kerja, yang padahal waktu yang tersisa itu sebenarnya bisa melakukan apa saja untuk menjadi pribadi yang lebih produktif. seperti halnya menulis, membaca, atau hanya sekedar membuat rencana-rencana bisnis yang mungkin bisa aku lakukan. Tapi, aku benar-benar menyia-nyiakan itu. Gadis itu benar-benar menyadarkanku untuk soal ketangguhan. sebagai laki-laki, aku merasa kalah. 

Dan yang lebih-lebih sangat aku kagumi adalah, setelah beberapa bulan tak bertemu, saat bertemu lagi, ia kini sudah pindah perusahaan tempat bekerja. Dan tentu dibarengi dengan penghasilan kerja yang lebih baik dari sebelumnya. Karena perusahaan yang sekarang lebih berkelas dari perusahaan sebelumnya. walaupun dengan tanggung jawab yang lebih berat dari sebelumnya tentunya. Sebab, ia harus bersedia dengan mobilitas yang tinggi, yakni harus bersedia satu minggu di Kota Pekanbaru, satu minggu di kota Duri, satu minggu di kota Dumai demi menjalankan tugas dari perusahaan. Dan hebatnya, ia setiap sabtu dan minggu masih kuliah seperti yang dituliskan di awal tadi. dalam hati aku tidak mampu untuk tidak berucap, ‘gadis ini benar-benar tangguh!!!’. 

Ternyata, saat ini, gadis tangguh seperti yang diceritakan  ibuku pada wanita di zaman dulu, di saat ibu memberi nasihat untuk mencari pendamping hidup wanita sepeti itu,  kini masih ada.  Dan pasti, masih banyak gadis-gadis tangguh lain yang punya cerita hidup lebih menarik dari seperti yang aku ceritakan dalam tulisan ini. Semoga aku juga menemukan gadis tangguh lainnya agar semakin banyak inspirasi untuk dituangkan dalam tulisan. 

0 komentar:

Posting Komentar