Namanya Keizi.
Umurnya baru sekitar 21 lebih sedikit lah. Tetapi, ia sudah sudah menjadi gadis
yang cukup mapan diusianya. Seorang gadis yang tidak lagi merepotkan kedua orang
tuanya untuk kebutuhan make up, malahan ia bisa membantu memberi sekedar uang
jajan untuk adik-adinya yang masih sekolah.
Aku
mengenalnya di sela-sela kebersamaan kerja di dunia Farmasi. Menunggu dokter
sampai selesai semua pasiennya konsultasi yang ada di poli. Ia selalu memberi
senyum ramah setiap kali bertemu. Melalui senyum ramahnya itu pula lah
membuatku tak sungkan untuk bertegur sapa saat bertemu dan dilanjutkan dengan
berbagai perbincangan ringan yang penuh humor. Ia begitu pandai mengakrabkan
diri dengan orang lain. Ditambah pula dengan paras wajah yang menurutku dapat
dikategorikan cantik, membuat banyak orang-khusunya laki-laki untuk
berbincang-bincang dengannya setiap bertemu. Dan tidak alpa pula aku.
“Awalnya sih
memang ingin kerja aja bang, ditawari pula sama teman kakak kerja seperti ini.
Waktu pertama kerja sih terasa canggung, tetapi, setelah dinikmati asik juga rasanya
sekarang.” Jawabnya ringan sewaktu aku melemparkan pertanyaan mengapa ia mau
bekerja di bagian marketing. yang kebanyakan orang sangat menghindari pekerjaan
itu dengan dalih tidak pandai berbicara dan takut menghadapi banyak orang,
sehingga rela untuk menganggur tidak bekerja. Sementara gadis itu terlihat
sangat menikmatinya.
Memang aku
kagum dengan keberaniannya sebagai seorang wanita muda bekerja dalam bidang yang
setiap hari-harinya berhadapan dengan banyak orang. Apalagi dari ceritanya, dia anak rantau yang
tidak tinggal sama orang tuanya di kota Bertuah ini. Orang tuanya ada di provinsi
sebelah yakni Sumatera Utara. Tapi bukan itu yang sangat aku kagumi. Melainkan
kegigihannya dalam menjalani hidup ini untuk selalu diisi dengan
kegiatan-kegiatan penting untuk menikmani masa depan yang lebih baik. Pekerjaannya
dimulai dari hari senin sampai sabtu. Biasanya sabtu hanya setengah hari. Tapi
di hari senin sampai jum’at, ia sering pulang malam dalam bekerja karena harus
memenuhi target kunjugan dokter yang
sudah ditetapkan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Sementara sore, ia
mencuri-curi waktu untuk les komputer guna menambah keahliannya. sedangkan
sabtu siang dan minggu, ia kuliah mengambil jalur perkuliahan yang non reguler
di sebuah sekolah tinggi swasta.
“Ga ada waktu libur, Bang!” ujarnya waktu
bercerita itu dengan mengerutkan dahi. Tapi ia terlihat tetap semangat. Sambil
sekali-kali mengelus rambutnya yang lurus, dan tentu saja terlihat semakin
cantik.
“Hebat!!” Pujiku
dengan melempar senyum. ia membalasnya dengan
tetap merendah diri. “biasa aja pun Bang”, ucapnya sambil tersenyum.
Kegigihannya
ini membuatku malu. Ia, gadis itu, yang seorang perempuan, dan masih sangat
muda begitu bersemangat menikmati hidup dengan kegiatan-kegiatan yang
sebenarnya sangat cepat menghadirkan titik jenuh. Karena, biasanya , gadis
seusianya sedang senang-senangnya bermanja-manjaan menikmati masa muda dengan
bermacam cara, tapi tidak dengan gadis itu. Ia memilih melakukan yang bisa
menopang masa depannya menjadi lebih baik nantinya. Walau harus dengan aktivitas-aktivitas
yang begitu padat. Aku malu, karena waktu kuliah dulu, aku sebenarnya punya
semangat seperti itu, namun kini setelah memasuki dunia kerja, aku mudah merasa
jenuh. Aku merasa sudah mendapatkan seusatu yang memang dibutuhkan mendesak,
sehingga semangatku untuk mendapatkan yang lebih lagi mulai pudar. Aku sering
menyia-nyiakan waktu hanya untuk bersantai setelah pulang kerja, yang padahal
waktu yang tersisa itu sebenarnya bisa melakukan apa saja untuk menjadi pribadi
yang lebih produktif. seperti halnya menulis, membaca, atau hanya sekedar
membuat rencana-rencana bisnis yang mungkin bisa aku lakukan. Tapi, aku benar-benar
menyia-nyiakan itu. Gadis itu benar-benar menyadarkanku untuk soal ketangguhan.
sebagai laki-laki, aku merasa kalah.
Dan yang
lebih-lebih sangat aku kagumi adalah, setelah beberapa bulan tak bertemu, saat
bertemu lagi, ia kini sudah pindah perusahaan tempat bekerja. Dan tentu
dibarengi dengan penghasilan kerja yang lebih baik dari sebelumnya. Karena
perusahaan yang sekarang lebih berkelas dari perusahaan sebelumnya. walaupun
dengan tanggung jawab yang lebih berat dari sebelumnya tentunya. Sebab, ia
harus bersedia dengan mobilitas yang tinggi, yakni harus bersedia satu minggu
di Kota Pekanbaru, satu minggu di kota Duri, satu minggu di kota Dumai demi
menjalankan tugas dari perusahaan. Dan hebatnya, ia setiap sabtu dan minggu
masih kuliah seperti yang dituliskan di awal tadi. dalam hati aku tidak mampu
untuk tidak berucap, ‘gadis ini benar-benar tangguh!!!’.
Ternyata, saat
ini, gadis tangguh seperti yang diceritakan
ibuku pada wanita di zaman dulu, di saat ibu memberi nasihat untuk
mencari pendamping hidup wanita sepeti itu, kini masih ada. Dan pasti, masih banyak gadis-gadis tangguh
lain yang punya cerita hidup lebih menarik dari seperti yang aku ceritakan
dalam tulisan ini. Semoga aku juga menemukan gadis tangguh lainnya agar semakin
banyak inspirasi untuk dituangkan dalam tulisan.
0 komentar:
Posting Komentar