Suatu sore, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju ke
suatu tempat, aku singgah di musollah yang berada dalam SPBU untuk menunaikan
sholat magrib. Suara adzan baru saja usai terdengan merdu dari masjid-masjid
yang ada di luar area itu, namun di musolah itu tidak terdengar lafaz adzan
karena memang tidak ada yang mengumandangkan.
Hampir semua yang akan sholat disitu adalah yang sedang
dalam perjalanan, kecuali ada beberapa petugas SPBU yang jumlahnya tidak
banyak.
Setelah aku selesai mengambil air wudu’, akupun masuk ke
ruangan musolah. Hanya ada sekita 4 orang laki-laki termasuk aku. Ingin
mengerjakan sholat berjama’ah namun segan dan mungkin malu. Di saat seperti
itu, seorang securiti mengajak kami untuk sholat berjama’ah dan memberikan
isyarat kepada kami untuk menjadi imam. Orang-orang di situ tidak bersedia,
termasuk aku. Malah kami menunjuk balik securti itu untuk menjadi imam dalam
sholat di maghrib yang cerah itu.
Securiti itu pun maju, ia mau menjadi imam. Saat membaca
surat Al-fatihah dan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya, suaranya begitu apa adanya,
bahkan menurutku tajwid dalam bacaannya ada yang salah. Bukan maksud sok
pintar, tapi sedikit tahu karena pernah belaja mengaji. Namun, walau hanya
memiliki kemampuan membaca ayat yang sederhana itu, ia berani mengajak kami
untuk melalukan sholat bersama, bahkan ia berani untuk menjadi imam yang pasti
demi mendapatkan pahala yang lebih banyak yakni 27 kali lipat dari sholat
sendirian.
Aku kagum terhadap keberaniannya. Orang seperti ini juga
bisa menjadi inspirasi bagi kita semua yang perduli dengan hal-hal sepele. Semoga
kita juga bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar