di suatu siang, aku sedang duduk santai di depan ruang
fisioterapi sebuah rumah sakit swasta ternama di pekanbaru. Kebetulan di depan
tempat saya duduk adalah lift dan tangga manual di sebelah kanannya. Tempat
saya duduk ini adalah ruangan paling bawah dari gedung berlantai lebih dari
lima tingkat itu.
Sambil asik bermain smart phone yang saya miliki, tiba-tiba
masuk sepasang suami istri yang mungkin usianya sudah memasuki di atas empat
puluh tahunan. Sepertinya mereka akan menjenguk saudara atau sahabat yang
sedang sakit.
Saat pasangan itu sudah sampai pas betul di depan lift, dan
istrinya telah menekan tombol yang tujuan ke atas gedung, namun terlihat dari
layar petunjuk perjalanan lif baru saja menuju atas gedung. Mereka terlambat.
Untuk menunggu lif itu turun kembali ke lantai dasar, tentu dibutuhkan waktu
beberapa menit.
Lantas sang suami terlihat tidak sabar. Ia mengajak istrinya
untuk menaiki tangga saja. Tetapi istrinya sedikit keberatasan, “capek loh naik
tangga!”, ujar istrinya.
“mau berapa lama ditunggu liftnya itu baru jalan ke atas!”
sambut suaminya dengan nada yang kurang lembut sambil menuju arah tangga. Aku
hanya memperhatikannya dari tempat dudukku.
Istrinya pun tak bisa menolak. Dengan wajah yang sedikit
kecewa, istrinya mengikuti di belakang dengan jalan perlahan. Sekilas terlihat
sepertinya si istri sedang kurang sehat untuk berjalan dengan cepat. Namun sang
suami aku perhatikan tidak begitu perduli. Suaminya tetap saja berjalan dengan
cepat menuju lantai dua dengan meniti anak tangga. Si istri terlihat sangat
perlahan meniti anak tangga itu. Terlihat seperti tidak ada kemesraan sebagai
suami istri. Si suami bukan menggandeng sang istri, malahan berjalan melenggang
seperti tanpa beban. Sehingga dalam meniti anak tangga itu si istri tertinggal jarak
yang lebih dari 7 anak tangga. Kasihan
istrinya.
Renungan: mungkin
rasa jenuh dalam sebuah komunikasi keluarga, menjadi titik dasar kemesrhaan itu
tidak terlihat. Kita bisa ingat, di saat-saat para remaja memadu kasih, begitu
banyak janji-janji, kemesraan, keharmonisan, dan keromantisan yang terbangun.
Tetapi kebanyakan pula, di saat yang sudah membangun keluarga dengan menikah,
kemesraan itu semakin hilang setelah bertambahnya usia.
Salah satu fakta yang
sering aku temukan dari mengamati dalam lingkunganku mengenai ini adalah
ketika melihat dua sejoli yang belum menikah, mereka terlihat begitu mesrah.
Tetapi setelah menikah dan memiliki anak, lambat laun kemesraan itu pudar,
bahkan sampai keluar kata “urus itu anakmu” dengan nada yang ketus dari suami
kepada istri.
Cerita di atas mungkin bisa dijadikan salah satu contoh
tentang pudarnya kemesraan setelah berkeluarga. Padahal, kemesraan dalam sebuah
keluarga sangat dibutuhkan untuk membangun ssebuah keluarga kecil yang penuh
kebahagiaan dan kedaiaman. Semoga saja cerita itu dapat mengingatkan yang sudah
menikah untuk terus menjaga kemesraan dalam keluarga, dan bagi yang belum
menikah dapat menjadi catatan penting yang harus selalu diingat untuk
mendapatkan keuarga yang bahagita setelah menikah. Semoga saja.
0 komentar:
Posting Komentar