19.31
0




“kasihan lihat ibu yang tinggal di ujung sana” kata seroang ibu yang mengajakku bercerita di sebuah desa yang damai. 

“kenapa, Bu?” tanyaku penasaran. 

“Ia punya seorang anak perempuan satu-satunya, yang tentu saja sangat dibanggakan sekaligus sangat disayangi. Apapun keinginan sang anak untuk kebahagiaannya selalu berusaha dituruti-dalam hal yang baik tentunya. Keterbatasan ekonomi tidak membatasinya untuk meperjuangkan pendidikan sang anak sampai level perguruan tinggi.” Pandangan ibu yang bercerita padaku itu menerawang. 

“terus apa masalahnya ibu merasa kasihan?” tanyaku menggali informasi 

Nalurinya sebagai seorang perempuan yang suka bercerita, tidak bisa disembunyikan, padahal terlihat  isi ceritanya sangat berat untuk disampaikan, tetapi ia tetap menceritakan. “saya kasihan karena anak yang dibesarkan dengan penuh perjuangan itu tega menghancurkan harapan besar orang tuanya.” Sambungnya

Ia buk, terus apa masalahnya, harapan besar yang bagaimana yang dihancurkan itu?” aku semakin penasaran.

“beberapa waktu lalu, setelah anak gadis itu menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya, ia memperkenalkan calon pendamping hidupnya. Semua terlihat bahagia. Ibu itu tentu sangat senang menerima calon imam untuk anaknya yang terlihat santun adanya. Karena serius, proses persiapan menikahkan anak gadis satu-satunya itu sudah matang. Rumah yang awalnya sederhana dibangun menjadi semakin indah. Tapi, entah kenapa petaka itu tiba. Belum lagi persiapan  acara itu selesai semua, entah bagaimana ceritanya, anak gadis itu malah menikah lari dengan pria lain selingkuhannya. Padahal, pria itu dikenal oleh sebagian warga desa sebagai pria yang kurang baik perangainya.  Sementara, hampir semua warga desa sudah mengetahui bahwa pria yang akan menikahi anak gadisnya adalah pria yang dikenalkan pertama, bukan pria yang menikah lari dengannya itu. Tentu saja itu menjadi bencana bagi ibu itu dan keluarganya. Anak yang dibesarkan dengan penuh cinta dan cerita  suka duka dan diharapkan menjadi pembahagia seperti mutiara, malah menjadi debu yang mengotori nama keluarga, memupuskan harapan, mematahkan keinginan, menghancurkan rencana, membunuh nama baik dan merobek angan-angan. Padahal ibu itu sudah mempersiapkan untuk menyambut acara syukuran pernikahan dengan kedatangan tamu-tamu terhormat. Hancur sudah. Saat pertama kali ibu itu menemukan kabar bahwa anak kesayangannya itu mengecewakannya, ketegarannya pun rapuh, sampai jatuh pingsan tak berdaya. Saat ibu itu bersandar dalam dekapanku sebagai tetangganya dengan penuh kelemahan, terdengan samar ucapan ‘anakku, kenapa kau lakukan itu?’ diiringi dengan derasnya kucuran air mata yang mengalir di pipinya.” Suara ibu yang bercerita kepadaku itu terasa sangat berat. Ia terlihat berempati ikut dalam situasi keedihan.

Aku tak bisa bertanya lagi. Bingung apa yang ingin aku tanyakan untuk menyambung cerita. Lidahku terasa berat untuk berkata-kata mendengar betapa lirihnya cerita itu. Dan, tak seharunya aku tahu aib orang yang belum aku kenal secara dekat, tetapi ibu itu sudah menceritakan. Padahal, aku hanyalah seorang anak rantau yang sedang berkunjung ke desa yang damai itu untuk berlibur ke tempat saudra, tetapi mendapatkan cerita fakta bisa jadi sangat menyentuh. Sehingga, tentu saja cerita ini bisa menjadi pelajaran dalam hidup.

“sudah ya, jangan ditanya-tanya lagi, ibu yang kita ceritakan itu datang” ucap ibu itu mengejutkan lidahku yang kaku untuk berkata-kata. Lantas aku respon dengan menganggukkan kepala. Dalam hati, hati ini masih tetap bertanya tidak percaya, ‘kenapa ada anak yang mengecewakan orangtuanya sampai seperti itu??  Entahlah.


0 komentar:

Posting Komentar