“kasihan lihat ibu yang tinggal
di ujung sana” kata seroang ibu yang mengajakku bercerita di sebuah desa yang
damai.
“kenapa, Bu?” tanyaku penasaran.
“Ia punya seorang anak perempuan
satu-satunya, yang tentu saja sangat dibanggakan sekaligus sangat disayangi.
Apapun keinginan sang anak untuk kebahagiaannya selalu berusaha dituruti-dalam
hal yang baik tentunya. Keterbatasan ekonomi tidak membatasinya untuk
meperjuangkan pendidikan sang anak sampai level perguruan tinggi.” Pandangan
ibu yang bercerita padaku itu menerawang.
“terus apa masalahnya ibu merasa
kasihan?” tanyaku menggali informasi
Nalurinya sebagai seorang
perempuan yang suka bercerita, tidak bisa disembunyikan, padahal terlihat isi ceritanya sangat berat untuk disampaikan,
tetapi ia tetap menceritakan. “saya kasihan karena anak yang dibesarkan dengan
penuh perjuangan itu tega menghancurkan harapan besar orang tuanya.” Sambungnya
Ia buk, terus apa masalahnya,
harapan besar yang bagaimana yang dihancurkan itu?” aku semakin penasaran.
“beberapa waktu lalu, setelah
anak gadis itu menyelesaikan pendidikan perguruan tingginya, ia memperkenalkan
calon pendamping hidupnya. Semua terlihat bahagia. Ibu itu tentu sangat senang
menerima calon imam untuk anaknya yang terlihat santun adanya. Karena serius,
proses persiapan menikahkan anak gadis satu-satunya itu sudah matang. Rumah
yang awalnya sederhana dibangun menjadi semakin indah. Tapi, entah kenapa
petaka itu tiba. Belum lagi persiapan
acara itu selesai semua, entah bagaimana ceritanya, anak gadis itu malah
menikah lari dengan pria lain selingkuhannya. Padahal, pria itu dikenal oleh
sebagian warga desa sebagai pria yang kurang baik perangainya. Sementara, hampir semua warga desa sudah
mengetahui bahwa pria yang akan menikahi anak gadisnya adalah pria yang
dikenalkan pertama, bukan pria yang menikah lari dengannya itu. Tentu saja itu
menjadi bencana bagi ibu itu dan keluarganya. Anak yang dibesarkan dengan penuh
cinta dan cerita suka duka dan
diharapkan menjadi pembahagia seperti mutiara, malah menjadi debu yang
mengotori nama keluarga, memupuskan harapan, mematahkan keinginan,
menghancurkan rencana, membunuh nama baik dan merobek angan-angan. Padahal ibu
itu sudah mempersiapkan untuk menyambut acara syukuran pernikahan dengan
kedatangan tamu-tamu terhormat. Hancur sudah. Saat pertama kali ibu itu
menemukan kabar bahwa anak kesayangannya itu mengecewakannya, ketegarannya pun
rapuh, sampai jatuh pingsan tak berdaya. Saat ibu itu bersandar dalam dekapanku
sebagai tetangganya dengan penuh kelemahan, terdengan samar ucapan ‘anakku, kenapa kau lakukan itu?’
diiringi dengan derasnya kucuran air mata yang mengalir di pipinya.” Suara ibu
yang bercerita kepadaku itu terasa sangat berat. Ia terlihat berempati ikut
dalam situasi keedihan.
Aku tak bisa bertanya lagi.
Bingung apa yang ingin aku tanyakan untuk menyambung cerita. Lidahku terasa
berat untuk berkata-kata mendengar betapa lirihnya cerita itu. Dan, tak
seharunya aku tahu aib orang yang belum aku kenal secara dekat, tetapi ibu itu
sudah menceritakan. Padahal, aku hanyalah seorang anak rantau yang sedang
berkunjung ke desa yang damai itu untuk berlibur ke tempat saudra, tetapi
mendapatkan cerita fakta bisa jadi sangat menyentuh. Sehingga, tentu saja
cerita ini bisa menjadi pelajaran dalam hidup.
“sudah ya, jangan ditanya-tanya
lagi, ibu yang kita ceritakan itu datang” ucap ibu itu mengejutkan lidahku yang
kaku untuk berkata-kata. Lantas aku respon dengan menganggukkan kepala. Dalam
hati, hati ini masih tetap bertanya tidak percaya, ‘kenapa ada anak yang
mengecewakan orangtuanya sampai seperti itu??
Entahlah.

0 komentar:
Posting Komentar