Seoranga anak ibarat saham investasi yang
paling berharga bagi orangtua. Karenanya, dengan penuh keteguhan, kesulitan,
kesabaran, ia tetap mengupayakan yang terbaik untuk anaknya itu.
Hambatan ekonomi yang tidak mencukupi, terkadang
tidak menjadi penghalang untuk anaknya bisa sekolah tinggi. Dengan harapan,
anaknya dapat menuntunnya ketika ia telah renta, menghiburnya ketika ia
bersedih, memeluknya ketika ia butuh kehangatan, menggantiakannya sebagai orang
terhormat dimasyarakat, menjaganya ketika ia sakit, dan mendoakannya ketika ia
sudah tiada di bumi ini.
Tetapi, terkadang terjadi hal yang
menyedihkan. Seorang anak menghancurkan harapan orangtuanya. Banyak anak yang
lupa diri ketika ia sudah mandiri. Anak menjadi pelawan dengan kata-kata yang
kasar, menjadi pemarah karena tidak mau diganggu, menjadi musuh karena masalah
harta, menjadi lupa diri karena sudah menemukan cinta dan yang paling sadis
menjadi perbincangan negatif dimasyarakat karena perilaku yang tidak wajar.
Betapa pedihnya hati orang tua kalau terjadi
seperti itu. Mimpinya ketika melihat senyum kita waktu kecil untuk menjadi anak
yang mengharumkan namanya di waktu sudah dewasa, hancur lebur bagai dihatam
gelombang yang besarnya tak terukur.
Semoga kita tidak menjadi seorang anak yang
menghancurkan harapan orangtua. Sebab, tangis orang tua karena perilaku negatif
kita, bisa menjadi musibah terbesar dalam hidup.
ditulis dari sebuah renungan atas beberapa
kejadian beberapa anak yang lupa diri.

0 komentar:
Posting Komentar