17.54
0



Seoranga anak ibarat saham investasi yang paling berharga bagi orangtua. Karenanya, dengan penuh keteguhan, kesulitan, kesabaran, ia tetap mengupayakan yang terbaik untuk anaknya itu.

Hambatan ekonomi yang tidak mencukupi, terkadang tidak menjadi penghalang untuk anaknya bisa sekolah tinggi. Dengan harapan, anaknya dapat menuntunnya ketika ia telah renta, menghiburnya ketika ia bersedih, memeluknya ketika ia butuh kehangatan, menggantiakannya sebagai orang terhormat dimasyarakat, menjaganya ketika ia sakit, dan mendoakannya ketika ia sudah tiada di bumi ini. 

Tetapi, terkadang terjadi hal yang menyedihkan. Seorang anak menghancurkan harapan orangtuanya. Banyak anak yang lupa diri ketika ia sudah mandiri. Anak menjadi pelawan dengan kata-kata yang kasar, menjadi pemarah karena tidak mau diganggu, menjadi musuh karena masalah harta, menjadi lupa diri karena sudah menemukan cinta dan yang paling sadis menjadi perbincangan negatif dimasyarakat karena perilaku yang tidak wajar. 

Betapa pedihnya hati orang tua kalau terjadi seperti itu. Mimpinya ketika melihat senyum kita waktu kecil untuk menjadi anak yang mengharumkan namanya di waktu sudah dewasa, hancur lebur bagai dihatam gelombang yang besarnya tak terukur.

Semoga kita tidak menjadi seorang anak yang menghancurkan harapan orangtua. Sebab, tangis orang tua karena perilaku negatif kita, bisa menjadi musibah terbesar dalam hidup.

ditulis dari sebuah renungan atas beberapa kejadian beberapa anak yang lupa diri.



0 komentar:

Posting Komentar