Seorang anak remaja yang memiliki bakat cukup baik dalam
sepak bola, dilihat oleh salah seorang agen yang peduli terhadap bakat-bakat
anak kampung tetapi akses untuk mengembangkan bakatnya sangat minim. Setelah
melihat anak itu, agen itu sangat tertarik dengan skillnya. Lalu ia menghampiri
anak itu dan menawarkannya untuk ikut seleksi di sebuah klub ternama yang berada dalam salah satu kompetisi yang
sangat terkenal di Eropa.
Anak itu pun senang. Dengan modal keyakinan dan keinginan
yang kuat, walau keterbatasan biaya dan tidak mendapat dukungan dari sang ayah,
ia tetap pergi untuk ikut seleksi itu. Dengan mengeahkan semua kemampuan yang
ia miliki dalam seleksi itu, akhirnya ia terpilih dipromosikan untuk bergabung
dengan klub itu. Ia pun sangat senang. Namun, sebelum ia diterima secara resmi,
ia harus mengikuti tes kesahatan yang dilakukan oleh klub tersebut.
Tentang kesehatan fisiknya semua oke, kecuali satu hal,
yaitu ia memiliki penyakit asma. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
dokter terkait fisik awalnya ia jawab sangat lancar dan jujur, tetapi ada satu
pertanyaan yang membuatnya sangat dilema. Dan butuh waktu beberapa detik untuk
diam berfikir sebelum menjawab.
“apakah kamu memeliki gangguan dengan pernafasan?” tanya
dokter
Ia gugup. Ingin menjawab jujur bahwa ia memeiliki penyakit
asma, tetapi ia takut itu akan menjadi penghalang mimpinya untuk menjadi pemain
terkenal. Lantas ia pun berbohong dengan menjawab “tidak”.
Tes kesehatan yang dijalaninya pun lulus. Ia semakin senang
karena ia semakin pandai bermain bola dan semakin diperhatikan kehebatannya
oleh pelatih kepala, tentu saja itu menjadi modal baik untuk bisa ikut bermain
di sebuah liga yang sangat bergengsi dengan masuk ke tim utama.
Karena skilnya terlihat sangat bagus, di saat pertandingan
penting melawan klub hebat, pelatih memberi kepercayaan penuh kepadanya untuk
bermain bersama pemain inti. Akan tetapi saat laga sudah berjalan beberapa
menit, mulai terlihat kekurangnya. Ia tidak bisa lari dengan cepat, tidak bisa
menghalau lawan dengan hebat, dan sangat terlihat ketidak mampuannya dalam
bermain di sebuah laga krusial. Pelatih pun kecewa, dan segera menggantikannya
dengan pemain yang lebih segar.
Setelah pertantingan usai, ia pun diintrogasi oleh asisten pelatih
tentang kenapa bermainnya sangat buruk saat sudah diberi kepercayaan. Ia hanya
diam, tidak memberi jawaban. Sehingga ia pun dikeluarkan dari klub.
Namun, saat ia akan menuju ke stasiun untuk pulang kampung
dengan wajah lesu karena kegagalannya, seorang teman satu timnya melihatnya dan
menanyakan baik-baik perihal masalahnya. Ia pun menceritakan yang sebenarnya.
Lantas, temannya itu mengambil tindakana cepat untuk membawanya kepada kepala
pelatih dan menceritakan masalah yang sebenarnya ada pada anak itu.
“kenapa kamu berbohong?” tanya kepala pelatih kepadanya.
“saya takut tidak lulus kalau saya jujur, padahal untuk
bermain di klub yang terkenal adalah impian saya sejak kecil” jawabnya dengan
penuh penyesalan.
“kamu tahu, asma itu bagi saya tidak masalah, tetapi
kebohonganmu itu lah yang jadi masalah” ungkap pelati itu bijak. Lantas anak
itu pun diterima kembali bergabung dengan klub dan tim dokter memberi
pengobatan yang serius untuk kesembuhannya. Dan ia pun menjadi pemain yang
hebat dan terkenal serta berjaya pada masanya.
Itulah cuplikan cerita dalam film berjudul ‘Goal’ tentas
pesepak bola terkenal Santiago Munes
yang pernah membawa klub Newcastel United berjaya dan juga pernah bermain untuk
Real Madrid yang pernah saya tonton.
Note: Kejujuran itu sangat mahal harganya. Sangat sedikit orang
yang mampu berlaku jujur. Padahal, ketika kita memiliki sebuah kekurangan
tetapi jujur kita sampaikan, tidak akan menimbulkan kekecewaan di kemudian
hari, walau, penolakan mungkin akan ada di saat kita menyampaikan kejujuran
itu. Mari kita terus belajar untuk menjadi pribadi yang jujur. Karena akan
sangat mengecewakan jika kita berbohong dan ketahuan di kemudian hari pada
orang yang sudah sangat pecaya dengan kita. Semoga bermanfaat.

0 komentar:
Posting Komentar